3 Cara Tegur Anak Laki-Laki Tanpa Melawan
- https://unsplash.com/id/foto/anak-laki-laki-mengenakan-rompi-abu-abu-dan-kemeja-merah-muda-memegang-buku-qDY9ahp0Mto
Parenting, VIVA Mindset – Pertumbuhan anak membutuhkan sikap bijak dalam menanganinya. Anak laki-laki jika ditegur ada yang bersikap melawan. Sementara yang diketahui orang pada umumnya, anak laki-laki sering dianggap kuat dan cuek. Padahal, hati anak laki-laki juga sensitif. Mereka butuh dihargai, bukan sekadar diarahkan.
Dilansir dari akun Instagram @akademikeluarga, menegur anak laki-laki tidak sama dengan menegur anak perempuan. Kita sering lupa. Teguran keras orang tua bisa terasa seperti serangan terhadap harga diri mereka.
Kenapa Anak Laki-Laki Menjauh Saat Ditegur?
Saat orang tua memakai nada tinggi, anak laki-laki bisa langsung "mati rasa" atau shut down. Dampaknya: mereka bisa ngambek, melawan, atau memilih diam seribu bahasa. Sikap ini bukan karena keras kepala. Itu karena cara teguran kita belum tepat.
Harga diri dan ego anak laki-laki sedang tumbuh. Makin besar, mereka makin susah diajak ngobrol. Mereka butuh ruang, bukan tekanan. Intinya, mereka ingin "aku dimengerti, bukan dihakimi."
Contoh Salah vs. Benar dalam Menegur
Mari melihat contoh sehari-hari saat anak laki-laki asik bermain game dan lupa tugas sekolah.
- Cara salah (menghakimi karakter):
"Kamu mau sampai kapan jadi anak pemalas? Kerjaanmu kok main game terus!"
Pernyataan ini menyerang kepribadian anak. Anak merasa dituduh dan direndahkan. Ia akan menolak nasihatmu.
- Cara benar (menegur perilaku dengan empati):
"Ibu tahu kamu seharian capek belajar di sekolah dan mau istirahat buat main game. Tapi, kamu juga perlu bagi waktu ya untuk kerjakan tugas sekolah. Yuk, kita atur bareng?"
Kalimat ini memvalidasi perasaan lelahnya. Lalu, kamu menjelaskan perlunya tugas tanpa merusak harga dirinya. Kamu mengajaknya bekerja sama mencari cara mengatasinya.
Tiga Kunci Teguran Sehat untuk Anak Laki-Laki
Cara menegur yang sehat, fokuslah pada membangun komunikasi dan rasa hormat:
- Tegur perilakunya atau kesalahannya, bukan kepribadiannya. Jangan melabeli anak dengan kata-kata negatif.
- Jelaskan alasan kenapa ditegur, bukan sekadar teriak-teriak. Anak perlu tahu dampak tindakannya.
- Validasi perasaannya, baru arahkan ke tindakan yang seharusnya. Tunjukkan empati, baru beri arahan. Anak laki-laki yang ditegur dengan empati akan tumbuh menjadi pria yang tahu cara mendengar, bukan cuma disuruh.