Mengenal Fase Threenager dan Cara Menghadapinya
- https://unsplash.com/photos/girl-in-green-and-purple-shirt-near-window-U9zuGACsU0M
Parenting, VIVA Mindset – Setelah melewati masa terrible two, banyak orang tua kembali berhadapan dengan tantangan baru saat anak memasuki usia tiga tahun. Fase ini dikenal sebagai fase threenager, gabungan dari kata three (tiga) dan teenager (remaja), yang menggambarkan sikap anak usia tiga tahun yang mirip anak remaja.
Peran orang tua sangat penting ketika anak mengalami fase threenager, karena pendekatan yang tepat dan penuh kesabaran akan membantu anak belajar mengelola emosinya. Berikut ciri-ciri anak yang mengalami threenager serta langkah efektif dalam menghadapi fase threenager agar anak tumbuh secara optimal
Ciri-Ciri Fase Threenager pada Anak
Agar orang tua tidak bingung atau stres menghadapi masa ini, penting untuk mengenali apa saja ciri-ciri fase threenager yang anak alami terlebih dahulu.
- Meningkatnya kemandirian
Anak yang mengalami fase threenager mulai ingin melakukan banyak hal sendiri, seperti memakai baju, makan, atau memilih mainan tanpa campur tangan orang tua. Sebenarnya, ini adalah tanda baik karena anak sedang belajar keterampilan dasar dan merasa percaya diri. Namun, jika orang tua terlalu mengekang, anak bisa semakin rewel atau keras kepala.
- Perubahan suasana hati yang cepat
Sama seperti remaja, anak usia tiga tahun bisa mengalami perubahan mood yang sangat cepat. Hal ini terjadi karena emosi mereka berkembang pesat, tapi kemampuan pengelolaannya masih terbatas. Orang tua perlu memahami bahwa perubahan mood ini wajar sebagai bagian dari proses tumbuh kembang.
- Suka berdebat dan membantah
Anak pada fase threenager sering menolak instruksi dengan kata “tidak” atau mencoba berdebat meskipun dengan alasan sederhana. Mereka ingin menunjukkan bahwa mereka memiliki suara dan bisa membuat keputusan sendiri. Walaupun terkadang membuat orang tua kesal, sebenarnya sikap ini adalah tanda bahwa anak mulai melatih kemampuan berpikir kritis dan mencoba menetapkan batasan untuk dirinya.
- Ekspresi emosi lebih dramatis
Ketika keinginannya tidak terpenuhi, anak bisa menangis keras atau marah berlebihan. Ekspresi ini merupakan bentuk komunikasi anak untuk menunjukkan rasa frustrasi mereka. Karena kemampuan berbicara mereka masih berkembang, anak akan lebih banyak mengekspresikan emosi melalui tindakan. Orang tua harus peka dan melihat ini sebagai sinyal bahwa anak butuh bantuan dalam memahami dan mengelola perasaannya.
Cara Efektif Menghadapi Fase Threenager
Setelah mengenali berbagai ciri fase threenager pada anak, langkah berikutnya yang harus orang tua lakukan adalah memahami bagaimana cara terbaik untuk menyikapinya.
- Tetap tenang dan konsisten
Orang tua sebaiknya tidak ikut terbawa emosi ketika anak keras kepala atau tantrum. Dengan aturan yang jelas dan konsisten, anak akan belajar memahami bagaimana perilaku yang bisa diterima dan yang tidak. Konsistensi ini juga membantu anak merasa aman karena mereka tahu apa yang diharapkan dari mereka. Jika orang tua mudah goyah, anak justru akan semakin bingung dan sulit diarahkan.
- Berikan pilihan yang terbatas
Anak sering merasa lebih senang jika diberi kesempatan untuk memilih, karena ini membuat mereka merasa punya kendali. Namun, pilihan yang diberikan sebaiknya terbatas agar tidak membuat anak bingung. Dengan cara ini, anak tetap merasa dihargai tanpa membuat orang tua kehilangan kendali atas situasi.
- Validasi perasaan anak
Saat anak marah atau sedih, jangan langsung menyuruhnya diam. Sebaliknya, orang tua perlu menunjukkan empati dan validasi, sehingga anak merasa dimengerti dan lebih mudah menenangkan diri. Hal ini juga mengajarkan anak bahwa semua perasaan itu valid, tapi cara mengekspresikannya harus dengan cara yang baik.
- Alihkan dengan aktivitas positif
Jika anak mulai menunjukkan emosi negatif, orang tua bisa mengalihkan perhatian dengan kegiatan yang menyenangkan. Misalnya, mengajaknya menggambar, bernyanyi, atau membaca buku favoritnya. Aktivitas ini membantu anak menyalurkan energi dan emosinya dengan cara yang lebih sehat. Selain itu, momen ini juga bisa mempererat ikatan emosional antara anak dan orang tua.
- Berikan pujian atas perilaku baik
Anak akan lebih termotivasi mengulang perilaku positif jika mendapatkan apresiasi. Pujian sederhana bisa membuat anak merasa dihargai. Dengan begitu, mereka belajar bahwa berperilaku baik akan membawa dampak yang menyenangkan.
Fase threenager mungkin terasa melelahkan, tapi ini adalah bagian penting dari proses tumbuh kembang anak. Pada tahap ini, anak sedang belajar mengenali identitas diri, mengasah kemandirian, sekaligus menguji batasan yang ada di sekitarnya.
Peran orang tua sangat besar dalam membimbing anak dengan penuh kesabaran, konsistensi, dan kasih sayang. Dengan pola asuh yang tepat, anak tidak hanya mampu menghadapi fase threenager dengan baik, tapi juga berkembang menjadi pribadi yang lebih percaya diri dan mampu mengelola emosinya di masa depan.