5 Perilaku Si Kecil dan Cara Menanganinya
- Getty Images/https://unsplash.com/id/foto/sebuah-keluarga-muda-dengan-anak-kecil-di-dalam-ruangan-di-kamar-tidur-berpakaian-hbIwzcWJ21o
Parenting, VIVA Mindset –Pernahkah Bunda dan Ayah merasa lelah menghadapi si kecil? Si kecil terus-terusan bilang "gak mau," menangis, atau melempar barang? Rasanya, baru beres bersih-bersih rumah 10 menit, eh, mereka sudah bikin drama lagi.
Ya, memang begitulah tumbuh kembang ana-anak. Dilansir dari @mpasiduniaparenting di Instagram, dikatakan bahwa sikap si kecil itu adalah fase normal dari tumbuh kembang anak usia 2 hingga 5 tahun. Perilaku ini memang bisa menguras emosi. Tapi sebenarnya anak sedang belajar banyak hal.
Berikut ini 5 perilaku anak dan cara menghadapinya:
1. Selalu Berkata "Tidak!"
Anak-anak mulai punya kemauan sendiri. Anak-anak sedang belajar mandiri.
Contoh: Si kecil menolak pakai baju yang Bunda siapkan.
Solusi: Beri dia pilihan. "Kamu mau pakai baju biru atau baju kuning?" Dengan begitu, mereka merasa punya kendali.
2. Bertanya Terus-menerus
Anak sedang belajar kosakata baru. Anak juga ingin tahu perbedaan hal-hal di sekitarnya.
Contoh: "Kenapa langit biru?" "Kenapa kucing meong?" "Kenapa Ayah kerja?"
Solusi: Sabar. Jawablah pertanyaan anak dengan antusias. Ini membangun rasa ingin tahu mereka.
3. Bergerak Tanpa Henti
Anak punya energi berlebih yang butuh disalurkan. Mereka sedang melatih motorik kasar dan keseimbangan tubuh.
Contoh: Anak lari-lari di dalam rumah. Mereka juga memanjat sofa.
Solusi: Ajak mereka bermain di luar. Sediakan ruang aman di dalam rumah. Biarkan mereka lari dan melompat.
Anak belum bisa mengelola emosi. Menangis adalah cara mereka meluapkan kekecewaan.
Contoh: Anak menangis karena tidak boleh membeli mainan.
Solusi: Jelaskan alasan laranganmu. Temani mereka. Validasi perasaannya. Katakan, "Mama tahu kamu sedih tidak bisa beli mainan itu."
5. Suka Melempar Barang
Ini adalah cara anak bereksplorasi. Mereka belajar tentang sebab-akibat. Mereka juga bisa melampiaskan emosi.
Contoh: Anak melempar mainan setelah marah.
Solusi: Tetapkan batasan. Jelaskan barang apa yang boleh dilempar, misalnya bola. Ajarkan alternatif melampiaskan marah. "Kalau kamu marah, kamu bisa pukul bantal."
Jadi, di balik drama si kecil, sebenarnya mereka sedang tumbuh. Menghadapi anak memang butuh ekstra sabar. Bunda dan Ayah bisa menjadi orang tua yang lebih bijak dengan pemahaman yang tepat.