Perilaku Menentang Anak Sesuai Usianya dan Cara Mendampinginya

Anak bermain dengan teman sebayanya dengan akur
Sumber :
  • Alexandr Podvalny/ https://unsplash.com/id/foto/2-anak-laki-laki-duduk-di-atas-mobil-mainan-merah-dan-hitam-TciuHvwoK0k

Parenting, VIVA Mindset –Apakah sikap anakmu akhir-akhir ini lebih banyak membantah? Anak remaja menjadi lebih keras kepala namun sensitif? Jangan emosi dulu ya Ibu dan Ayah. Perkembangan tubuh sesuai usia anak, juga diikuti dengan perkembangan emosinya. Tumbuh kembang anak bukan berarti anak-anak menjadi nakal.

img_title Mengenal Ms. Rachel dan Metode Viralnya dalam Membantu Speech Delay Anak

Dilasir dari @yasalamedukasi di Instagram, setiap fase usia anak memiliki tantangan berbeda. Jika Ibu dan Ayah dapat memahami perubahan di setiap fase ini, sangat membantu dalam cara menghadapi sikap menentang anak.

Fase Tumbuh Kembang Anak

img_title Cara Mengatasi Anak Susah Makan dan GTM: Panduan Aturan Feeding Rules IDAI

1.     ​Bayi (0-2 tahun)

Bayi bereksperimen dengan mulutnya. Bayi menangis untuk berkomunikasi. Bayi juga mengalami separation anxiety. Contohnya, bayi akan menangis saat kamu meninggalkannya. Hal ini karena bayi merasa cemas. Bayi tidak mau terpisah.

img_title Terlalu Sering Membentak Anak? Ini Dampak Buruk bagi Otak dan Solusi Memperbaikinya

2.     ​Batita (2-3 tahun)

Anak bawah tiga tahun pada usia ini sering tantrum. Batita berkata "enggak mau". Batita ingin mandiri. Rasa penasaran batita sangat tinggi. Contohnya, batita akan membuang makanan. Sikap sengaja batita ini sedang menguji batas.

3.     ​Prasekolah (3-5 tahun)

Anak usia prasekolah mulai meledak emosinya. Mereka sulit berbagi. Usia prasekolah sering mengarang cerita. Mereka ingin menguji batasan. Tidur juga bisa sulit. Contohnya, anak tiba-tiba marah besar. Ia tidak mau berbagi mainan. Hal ini karena emosinya sedang tidak stabil.

4.     ​Usia sekolah (6-12 tahun)

Anak mulai berargumen dengan orang tua. Mereka menguji peraturan. Mereka ingin mandiri. Kepercayaan diri mereka lebih besar. Perasaan mereka mulai sensitif. Contohnya, anak menawar jam tidur. Ia ingin lebih banyak waktu bermain.

5.     ​Remaja (13-18 tahun)

Remaja ingin sekali menjadi mandiri. Mereka mempertanyakan otoritas. Emosi mereka tidak stabil. Usia remaja suka menghabiskan waktu dengan teman. Mereka impulsif. Contohnya, remaja pulang larut malam. Ia membantah saat diberi tahu batasannya.

​Cara Mendampingi Mereka

​Mendampingi anak melewati fase ini butuh kesabaran. Ada beberapa hal yang bisa Ibu dan Ayah lakukan:

1.     ​Komunikasi efektif dan terbuka.

Bicaralah dengan mereka. Dengarkan keluh kesah mereka.

2.     ​Validasi emosi mereka.

Jangan hakimi mereka. Biarkan mereka tahu perasaannya wajar.

Halaman Selanjutnya
img_title