Bukan Nakal, Anak Hanya Belum Mengerti
- https://pixabay.com/id/photos/anak-anak-laki-laki-danau-air-1440526/
Parenting, VIVA Mindset – Apakah anakmu sering dibilang nakal? Saat ia menjatuhkan barang, mungkin kamu langsung marah. Ia dibilang tidak mengerti. Padahal, ia hanya bingung. Selagi sedang bingung, anak akhirnya hanya menangis. Ia menangis karena ia merasa tidak tahu harus berbuat apa.
1. Anak Hanya Belum Mengerti
Dikutip dari @vitaherdianti di Instagram, dulu kita sering anggap itu kenakalan. Tapi coba kita pikir lagi. Orang tua sudah mengetahui banyak aturan dalam hidup. Mana yang dilarang, mana yang boleh. Sementara anak itu berbeda. Usia mereka baru beberapa tahun. Banyak hal tidak dia mengerti.
Bagaimana cara orang bergaul, masih hal baru bagi anak. Anak itu tidak nakal. Ia hanya belum mengerti dunia ini. Dunia yang kita anggap biasa, bagi anak adalah dunia asing.
Anak belum tahu, kenapa air tidak boleh ditumpahkan. Ia belum mengerti kenapa dinding bukan kanvas. Ia juga belum paham mengapa sendok tidak boleh dilempar. Bagi anak kecil, semua itu adalah permainan dan eksplorasi.
2. Jadilah Kompas yang Ajari Anak dengan Sabar
Tugas kita selaku orang tua maupun orang dewasa, bukan menghukum. Tapi mengajari dengan sabar. Anak tidak lahir dengan akal dewasa. Mereka butuh waktu.
Jadilah kompas bagi mereka, bukan komandan. Anak butuh bimbingan. Dia perlu diberitahu kalau bermain api dapat terbakar. Kalau bermain air di lantai, dapat terpeleset. Jadi jangan hanya melarang ini itu. Jangan memerintah anak tanpa arah dan tujuan yang jelas.
3. Kesempatan Menemani dan Mengajari Anak
Saat anak membuat kesalahan, itu adalah kesempatan. Kesempatan untuk hadir. Kesempatan untuk tidak marah. Temani anak agar mengerti. Jangan tinggalkan mereka sendiri.
Jangan buru-buru melabeli anak "nakal". Terkadang, ia hanya butuh penjelasan. Kalimat sederhana yang mudah dia pahami. Dia juga hanya butuh pelukan agar kembali merasa aman.
Setiap lelah dan capek, ingatlah wajah mereka. Sorot mata yang polos. Tingkah laku yang menggemaskan. Ingat kita harus kuat. Kuat menjadi ibu atau ayah yang membimbingnya.
Saat kita sadar, kita akan mengerti. Anak kita tidak nakal. Ia hanya butuh bimbingan. Jangan biarkan kata "nakal" menempel di otak mereka. Kata itu bisa membentuk mereka menjadi anak nakal selamanya.