4 Tips Mengatasi Rasa Bersalah Jika Marah ke Anak

Ibu memarahi putrinya yang keras kepala
Sumber :
  • Vitaly Gariev/ https://unsplash.com/id/foto/seorang-ibu-menghadapi-anaknya-yang-kesal-ihkXwnPwOMU

Parenting, VIVA Mindset –Seringkali, setelah kita meledak marah kepada anak, perasaan bersalah itu datang menghantui. Kamu merasa gagal, tidak sabar, dan bertanya-tanya, "Kok bisa ya, aku seperti ini?"

img_title Penerapan Pengasuhan Positif dalam Membentuk Karakter dan Perkembangan Otak Anak Usia Dini

Dilansir dari @happybunnybooks di Instagram, dikatakan bahwa lebih dari 70% orang tua, pernah mengalami perasaan ini. Jadi wajar saja jika kamu pernah merasakan hal yang sama. Artinya, perasaan ini normal. Hal itu bukan tanda kamu gagal. Justru, rasa bersalah itu adalah tanda bahwa kamu peduli.

​Maka daripada terus-terusan menyalahkan diri, yuk ubah rasa bersalah ini jadi kekuatan.

img_title Mengubah Pola Pengasuhan Anak Remaja: Menjadi Mentor dan Membangun Kemandirian Masa Depan

1.     ​Jeda dan Tenangkan Diri

Saat amarah memuncak, hal terbaik yang bisa kamu lakukan adalah mengambil jeda. Ini bukan lari dari masalah, tapi memberikan waktu bagi otakmu untuk "dingin" kembali.

img_title Benarkah Bayi Lahir Caesar Lebih Mudah Sakit? Ini Penjelasan Medisnya

Contoh:

Saat anak menumpahkan susu di karpet, daripada langsung marah, kamu bisa bilang, "Mama butuh tenang sebentar, ya," sambil menarik napas dalam-dalam. Pergi ke ruangan lain sejenak untuk menenangkan diri. Lalu kembali dengan kepala yang lebih dingin.

Dengan begitu, sekaligus kamu mengajarkan pada anak bahwa emosi marah bisa dikelola, bukan hanya langsung dilampiaskan.

2.     ​Berani Berkata Jujur

Anak adalah peniru ulung. Saat kamu berani meminta maaf, kamu mengajarinya hal paling penting, yaitu mengakui kesalahan. Sikap ini menunjukkan kekuatan dan kerendahan hati. Jadi bukan kelemahan lho.

Contoh:

Setelah tenang, dekati anak dan katakan, "Nak, maaf ya tadi Mama marah. Mama janji akan coba lebih sabar."

Saat kamu jujur, anak belajar bahwa orang tua juga manusia yang bisa salah. Ini akan membangun hubungan yang lebih kuat dan penuh kepercayaan antara kamu dan anak.

3.     ​Rayakan Proses, Bukan Hanya Hasil

Menjadi orang tua seperti berlari maraton, bukan lari cepat. Kamu tidak akan langsung sempurna dan itu tidak apa-apa. Fokuslah pada kemajuan kecil yang kamu buat setiap hari.

Contoh:

Setelah berhasil menenangkan diri saat anak berulah, coba katakan pada diri sendiri, "Hari ini aku berhasil lebih tenang dari kemarin. Bagus, kamu hebat!"

Merayakan kemajuan diri, sekecil apa pun, akan membangun kasih sayang terhadap diri sendiri. Selain itu juga membuatmu lebih konsisten dalam belajar.

Halaman Selanjutnya
img_title