3 Bahaya Membesarkan Raja Kecil di Rumah

Dampak anak dimanjakan menjadi egois dan mudah marah.
Sumber :
  • VitorGarcia029/ https://pixabay.com/id/photos/mata-anak-bayi-potret-4791633/

Parenting, VIVA Mindset –Sukakah kamu melihat buah hatimu bahagia? Tentu, semua orang tua punya impian yang sama. Saat anak merengek minta mainan, menangis karena tidak dituruti, atau bahkan marah, respons spontan kita seringkali adalah menuruti saja demi melihat senyumnya kembali.

img_title Penerapan Pengasuhan Positif dalam Membentuk Karakter dan Perkembangan Otak Anak Usia Dini

​Kebiasaan ini, yang kelihatannya sepele, justru bisa berakibat fatal dalam jangka panjang. Dilansir dari @parentingofficial di Instagram, tanpa sadar, kamu sedang membesarkan seorang "raja kecil" di rumah. Seorang anak yang menganggap dirinya pusat dari segalanya. Semua orang harus mengikuti keinginannya.

​Dampak Jangka Panjang yang Mengkhawatirkan

img_title Mengubah Pola Pengasuhan Anak Remaja: Menjadi Mentor dan Membangun Kemandirian Masa Depan

​Dampak dari pola asuh ini tidak main-main. “Raja kecil” ini bakal tumbuh menjadi anak yang:

1.       ​Egois dan sulit menghargai orang lain

img_title Benarkah Bayi Lahir Caesar Lebih Mudah Sakit? Ini Penjelasan Medisnya

Anak yang terbiasa dituruti akan tumbuh menjadi pribadi yang egois. Mereka tidak akan terbiasa berempati atau mempertimbangkan perasaan orang lain. Mereka hanya tahu bahwa keinginannya harus terpenuhi.

2.       ​Mudah marah dan sulit bersosialisasi

Pernah melihat anak tantrum parah di tempat umum hanya karena tidak dibelikan permen? Ya, itu salah satu dampaknya. Anak yang terbiasa menang dengan amarah akan kesulitan mengendalikan emosinya. Saat di lingkungan sosial, mereka akan sulit berbaur. Mengapa? Karena teman-temannya tidak akan selalu menuruti kemauannya.

3.       ​Susah diatur dan tidak disiplin

Di sekolah, anak ini akan kesulitan mengikuti aturan. Mereka terbiasa mendapat perlakuan istimewa di rumah. Mereka akan menolak ketika dihadapkan pada batasan atau konsekuensi.

​Solusi Sehat untuk Masa Depan Anak

​Bagaimana cara menghentikan kebiasaan ini tanpa harus bersikap kasar?

1.       ​Ajarkan kata "tidak" dengan kasih sayang

Tidak semua keinginan anak harus dipenuhi. Berani berkata tidak dan jelaskan alasannya dengan lembut. Contohnya, "Sayang, hari ini kita tidak beli mainan baru, karena kita sudah punya banyak di rumah. Mainan itu bisa digunakan bergantian, ya."

2.       ​Biasakan berbagi dan menunggu giliran

Ini adalah kunci penting dalam melatih empati. Saat anak bermain dengan temannya, ajak mereka untuk bergantian menggunakan mainan. Ketika sedang di antrean, ajarkan anak untuk bersabar menunggu giliran.

Halaman Selanjutnya
img_title