Mengelola Emosi, Kunci Menjadi Orang Tua yang Lebih Tenang

Kunci Mengelola Emosi
Sumber :
  • https://www.magnific.com/idn/foto/ibu-dan-anak-perempuan

Parenting, VIVA MindsetMenjadi orang tua adalah pengalaman yang penuh kebahagiaan, tetapi juga tidak lepas dari tantangan. Mulai dari menghadapi anak yang tantrum, sulit diatur, hingga remaja yang mulai berani membantah, semuanya memincu rasa marah, frustasi, cemas, bahkan bersalah.

img_title Jangan Langsung Panik! ini Cara Merawat Bayi Kena Flu di Rumah Agar Si Kecil Tetap Nyaman

Dalam situasi ini, yang paling penting bukanlah berusaha menghilangkan emosi tersebut, melainkan belajar mengelolanya.

Para ahli menekankan bahwa anak belajar mengatur emosinya bukan hanya dari nasihat yang diberikan orang tua, tetapi juga dari cara orang tua menghadapi emosinya sendiri.

img_title Ciri-Ciri Anak Kena Flu Singapura dan Bedanya dengan Cacar Air, Orang Tua Wajib Tahu!

Ketika orang tua mampu tetap tenang di tengah situasi yang menegangkan, anak pun memiliki contoh nyata tentang bagaimana mengelola perasaan dengan sehat.

Orang Tua Juga Berhak Memiliki Emosi

img_title Anemia pada Remaja Putri: Apa Sih Pengaruhnya di Masa Depan?

Banyak orang tua harus selalu bersabar dan tidak boleh marah. Padahal, marah, sedih, takut, maupun cemas adalah emosi yang wajar dimiliki setiap orang.

Menurut Greater Good Science Center dari University of California, Berkeley, emosi tidak bisa begitu saja dihilangkan dengan berpikir logis. Emosi muncul sebagai respons alami tubuh terhadap situasi yang dihadapi.

Misalnya, kecemasan dapat membuat jantung berdebar dan tubuh terasa tegang, sementara kemarahan bisa membuat rahang mengecang dan tubuh terasa lebih panas. Mengenali sinyal-sinyal tersebut menjadi langkah pertama untuk mengendalikan emosi sebelum mengambil alih perilaku kita.

Mengapa Orang Tua Mudah Terpancing Emosi?

Bayangkan situasi ini. Ketika anda baru saja pulang kerja dalam keadaan lelah. Rumah berantakan, anak belum mau mandi, sementara pekerjaan rumah masih menumpuk.

Ketika anak kembali menolak permintaan sederhana, emosi yang tadinya hanya berupa rasa lelah berubah menjadi kemarahan.

Hal tersebut terjadi karena otak manusia memiliki mekanisme otomatis untuk merespons situasi yang dianggap menekan. Saat emosi memuncak, kita cenderung bereaksi spontan tanpa sempat berpikir Panjang. Inilah yang dalam konsep mindful parenting disebut sebagai react.

Sebaliknya, respond berarti memberi diri sendiri waktu beberapa detik untuk menyadari apa yang sedang dirasakan sebelum memutuskan bagaimana akan bertindak.

Mungkin terdengar sederhana, tetapi jeda singkat itu sering kali menjadi pembeda antara membentak anak dan mengajaknya berbicara tenang.

Halaman Selanjutnya
img_title