Ketika Gamer Tak Lagi Benar-Benar Memiliki Game
- https://gmedia.playstation.com/is/image/SIEPDC/ps5-product-thumbnail-01-en-14sep21?$facebook$
Game, VIVA Mindset –Industri game semakin bergerak menuju distribusi digital. Namun perubahan tersebut kembali memunculkan perdebatan lama mengenai arti kepemilikan sebuah game. Gelombang protes dari komunitas PlayStation dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan bahwa sebagian gamer tidak hanya mempersoalkan hilangnya keping fisik.
Yang menjadi perhatian utama adalah apakah pembeli masih benar benar memiliki game yang telah dibayar atau hanya memperoleh izin untuk mengaksesnya selama layanan masih tersedia.
Sony sendiri mengumumkan bahwa produksi game fisik baru untuk platform PlayStation akan dihentikan mulai Januari 2028. Dilansir dari PlayStation Blog pengumuman tersebut disebut sebagai langkah yang mengikuti perubahan preferensi konsumen yang kini lebih banyak membeli game secara digital. Sony juga menegaskan bahwa keputusan itu tidak memengaruhi game yang telah lebih dahulu dirilis dalam bentuk disc sebelum 2028.
Perubahan tersebut langsung memicu respons luas dari komunitas global. Tidak sedikit pemain yang menilai keputusan tersebut dapat mengubah hubungan antara pembeli dan produk yang dibelinya. Perdebatan itu kemudian berkembang menjadi pembahasan mengenai hak kepemilikan digital yang selama ini masih sering disalahpahami.
Bagi sebagian besar konsumen membeli suatu barang identik dengan memiliki barang tersebut sepenuhnya. Akan tetapi konsep itu tidak selalu berlaku pada produk digital termasuk video game.
Dikutip dari PlayStation Terms of Service setiap pembelian konten digital di PlayStation Store pada dasarnya merupakan pemberian lisensi penggunaan pribadi dan bukan perpindahan hak kepemilikan atas produk digital tersebut. Ketentuan itu juga menjelaskan bahwa penggunaan istilah membeli menjual atau memiliki tidak berarti hak kepemilikan atas konten digital berpindah kepada pengguna.
Perbedaan antara kepemilikan fisik dan lisensi digital inilah yang menjadi inti protes banyak gamer. Selama bertahun tahun mayoritas pemain memang dapat mengakses game digital tanpa hambatan. Namun secara hukum hubungan tersebut tetap berupa lisensi sehingga akses terhadap konten masih bergantung pada keberlangsungan layanan dan perjanjian penggunaan.
Dilansir dari Ars Technica kekhawatiran komunitas bukan muncul karena Sony secara rutin menghapus game dari perpustakaan pengguna. Yang dipermasalahkan adalah kemungkinan tersebut tetap ada karena pengguna secara kontrak tidak memiliki produk digital yang dibeli.