Ketika Gamer Tak Lagi Benar-Benar Memiliki Game
- https://gmedia.playstation.com/is/image/SIEPDC/ps5-product-thumbnail-01-en-14sep21?$facebook$
Kekhawatiran itu semakin menguat ketika Sony juga mengumumkan penghentian layanan PlayStation Store untuk platform lawas tertentu pada masa mendatang sehingga kembali memunculkan diskusi mengenai umur panjang koleksi digital.
Fenomena tersebut sebenarnya tidak hanya terjadi pada PlayStation. Hampir seluruh platform distribusi digital modern menggunakan sistem lisensi dengan ketentuan yang serupa meskipun implementasi dan perlindungan konsumennya dapat berbeda.
Gelombang kritik kemudian berkembang menjadi gerakan yang lebih luas mengenai pelestarian game dan hak konsumen. Salah satu gerakan yang cukup dikenal adalah Stop Killing Games yang sebelumnya mengampanyekan pentingnya keberlangsungan akses terhadap game setelah dukungan resmi berakhir.
Dilansir dari Tom's Guide perwakilan gerakan tersebut menilai masyarakat pada umumnya menganggap produk yang dipasarkan sebagai salinan fisik seharusnya benar benar memberikan rasa kepemilikan. Oleh karena itu hilangnya media fisik dianggap dapat memperbesar kesenjangan antara persepsi konsumen dan kenyataan hukum mengenai lisensi digital.
Di sisi lain muncul pula petisi Don't Kill the Disc yang memperoleh ratusan ribu tanda tangan hanya dalam waktu singkat. Dilansir dari GameSpot inisiatif tersebut digagas oleh PNP Games sebagai bentuk penolakan terhadap rencana penghentian game fisik PlayStation. Kampanye itu menegaskan bahwa media fisik masih memberikan manfaat berupa kebebasan menjual kembali meminjamkan mengoleksi hingga mewariskan game kepada orang lain.
Pandangan serupa juga disampaikan berbagai pelaku industri ritel. Dilansir dari TechRadar sejumlah toko game menyatakan bahwa distribusi digital dan fisik seharusnya tetap dapat berjalan berdampingan karena masing masing memiliki kelompok pengguna yang berbeda. Mereka juga menilai keberadaan media fisik mendukung ekosistem distribusi logistik kolektor hingga pasar game bekas yang selama ini menjadi bagian penting industri.
Perdebatan tersebut tidak hanya menyangkut nostalgia terhadap keping disc. Dilansir dari Financial Times banyak pemerhati industri melihat isu ini berkaitan dengan pelestarian sejarah video game hak konsumen serta kemampuan pemain untuk tetap mengakses koleksi yang telah dibeli dalam jangka panjang. Dalam konteks tersebut media fisik dipandang sebagai salah satu bentuk perlindungan terhadap hilangnya akses akibat perubahan kebijakan layanan digital.