Fenomena Sharenting Syndrome, Ini Dampaknya Terhadap Kesehatan Mental Anak!
- https://www.pexels.com/photo/a-woman-and-her-child-taking-a-selfie-27177467/
Tren, VIVA Mindset –Banyak orang tua zaman sekarang merasa bangga memamerkan setiap momen lucu anak mereka melalui media sosial. Fenomena ini disebut dengan Sharenting Syndrome, di mana orang tua merasa aktivitas ini menjadi rutinitas wajib demi meraup ribuan tombol suka maya.
Kebiasaan ini mungkin tampaknya tidak berbahaya. Namun tahukah Anda bahwa hal ini bisa menjadi bom waktu bagi kesehatan mental buah hati kecil Anda? Bahkan bisa memicu krisis identitas dan gangguan kecemasan juga, lho!
Simak penjelasan selengkapnya di bawah berikut ini!
Apa Itu Sharenting Syndrome?
Secara sederhana, fenomena ini adalah kebiasaan orang tua yang kebablasan membagikan informasi, foto, maupun cerita kehidupan anak secara berlebihan di media sosial. Walaupun niat awalnya sangat murni demi mengabadikan kenangan, praktik sharenting ini justru sering melewati batas dan tanpa sadar merampas hak privasi anak.
Dilansir melalui cleveandclinic.org, sebuah survei pada tahun 2015 mengungkap bahwa 74% orang tua menyadari adanya orang tua lain di sekitar mereka yang melakukan hal tersebut. Bahkan 54% responden membenarkan bahwa orang tua tersebut tanpa sadar telah membeberkan informasi memalukan sang anak ke ranah publik.
Sebanyak 51% orang tua dengan santai membocorkan lokasi keberadaan anak secara spesifik. Dan sebanyak 27% orang tua bahkan nekat mengunggah foto-foto anak yang kurang pantas di kehidupan sosial mereka.
Presentase angka tersebut menjadi bukti jelas bahwa kebablasan mengumbar privasi di media sosial bisa beresiko terhadap mental anak di masa depan.
Dampak Sharenting Syndrome Terhadap Mental Anak
Hobi mengumbar momen anak di dunia maya sangat mempengaruhi kondisi psikologi dalam jangka panjang. Berikut beberapa dampak yang bisa merugikan si kecil, namun seringkali luput dari perhatian para orang tua!
1. Kehilangan Privasi dan Otonomi Pribadi
Anak tumbuh besar dengan jejak digital publik yang sama sekali tidak bisa dikontrol. Situasi ini secara perlahan akan menghancurkan batas privasi personal yang seharusnya sangat dihargai.
Mereka merasa hak otonomi atas kisah hidupnya telah dirampas secara paksa sejak dini. Masa lalu mereka kini menjadi konsumsi publik tanpa adanya persetujuan dari sang anak.