Anak Sering Marah dan Rewel? Ini Cara Bijak Menghadapinya

Orang tua menenangkan anaknya
Sumber :
  • https://images.pexels.com/photos/7938240/pexels-photo-7938240.jpeg

Parenting, VIVA MindsetSetiap anak pasti pernah marah. Namun, jika anak terlalu sering menunjukkan emosi berlebihan seperti berteriak, menangis keras, atau agresif, orang tua perlu memahami bahwa hal ini bukan semata karena nakal, melainkan bagian dari perkembangan emosi yang perlu diarahkan dengan tepat karena kemampuannya mengelola emosi belum terbentuk sempurna. Maka dari itu, bimbingan dari orang tua sangat dibutuhkan untuk anak belajar mengekspresikan perasaan dan emosinya secara sehat.

img_title Benarkah Bayi Lahir Caesar Lebih Mudah Sakit? Ini Penjelasan Medisnya

1.      Pahami penyebab anak mudah marah

Langkah pertama yaitu mengetahui akar masalahnya. Biasanya, kemarahan anak dipicu oleh hal-hal seperti kelelahan atau kurang tidur, lapar, frustasi karena keinginan tidak dipenuhi, atau kesulitan mengekspresikan perasaan.

img_title Vitalnya Nutrisi 1.000 Hari Pertama Kehidupan: Fondasi Emas Pencegah Stunting

Anak usia dini belum mampu mengelola emosi secara mandiri, sehingga mereka meluapkannya dalam bentuk marah.

2.      Orang tua harus tenang, jangan ikut terpancing emosi

img_title Menavigasi Batasan Screen Time di Era Digital: Risiko Speech Delay dan Pentingnya Digital Detox

Respon orang tua sangat menentukan bagaimana anak belajar mengelola emosi. Jika orang tua ikut marah, maka anak akan meniru perilaku tersebut, anak tidak belajar bagaimana caranya mengontrol diri, hingga situasinya justru semakin memburuk.

Sebaliknya, sikap tenang akan membantu anak merasa aman dan perlahan meredakan emosinya.

3.      Ajarkan anak mengenali dan menyebutkan emosinya

Banyak anak marah karena tidak tahu bagaimana mengungkapkan perasaannya. Penting bagi orang tua untuk membantu anak mengenali emosi tersebut. Untuk contoh, bisa berupa memberikan pertanyaan sebagai bentuk validasi dan mengetahui penyebabnya, seperti "Kamu marah karena mainannya diambil?" atau "Adek kesal karena tidak boleh menonton?"

Pendekatan tersebut terbukti dapat membantu meningkatkan kemampuan regulasi emosi pada anak.

4.      Terapkan teknik "time-in", bukan hanya "time-out"

Selama ini kebanyakan orang tua hanya mengenal "time-out" (mengisolasi anak), padahal pendekatan "time-in" seperti mendampingi anak saat marah, membantu menenangkan diri, dan memberikan rasa aman lebih efektif dalam membangun hubungan emosional agar tidak memicu amarah anak, dibanding sekadar menghukum.

5.      Beri contoh cara mengelola emosi yang baik

Anak belajar dari apa yang mereka lihat. Jika orang tua mampu mengelola amarah dengan tenang dan tidak meledak-ledak, maka anak juga akan menirunya.

Halaman Selanjutnya
img_title