Kenapa Remaja Sering Overthinking? Ini yang Sering Luput dari Perhatian Orang Tua
- https://www.pexels.com/search/teenager%20overthingking/
Parenting, VIVA Mindset – Sering kali orang tua bertanya-tanya, kenapa anak terlihat lebih sensitif, mudah cemas, atau memikirkan sesuatu secara berlebihan. Padahal, jika dilihat dari luar, tidak ada masalah besar yang sedang terjadi.
Namun justru di situlah letaknya. Overthinking pada remaja tidak selalu muncul karena masalah besar, tetapi karena banyak hal kecil yang menumpuk dan tidak pernah benar-benar selesai.
Dilansir dari jurnal kesehatan masyarakat, kebiasaan berpikir berlebihan pada remaja dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari tekanan akademik, lingkungan sosial, hingga paparan media digital.
Remaja berada di fase di mana mereka mulai memahami banyak hal, tetapi belum sepenuhnya siap menghadapinya. Ada tuntutan untuk berprestasi. Ada keinginan untuk diterima dalam pergaulan. Ada juga rasa takut mengecewakan orang tua. Semua ini sering kali tidak diungkapkan secara langsung. Akhirnya, pikiran mereka bekerja sendiri, mencoba memahami, menilai, bahkan menghakimi diri sendiri.
Di sisi lain, media sosial juga memberi pengaruh yang tidak kecil. Tanpa disadari, anak mulai membandingkan dirinya dengan orang lain. Melihat pencapaian, penampilan, atau kehidupan orang lain yang terlihat “lebih baik”. Perbandingan ini mungkin terlihat sepele, tetapi jika terjadi terus-menerus, bisa memicu rasa tidak cukup dan kecemasan. Jurnal tersebut juga menyoroti bahwa tekanan dari lingkungan digital menjadi salah satu pemicu munculnya overthinking pada remaja.
Yang sering terlewat bukan pada apa yang dialami anak, tetapi pada bagaimana anak memprosesnya. Anak mungkin tidak selalu menunjukkan bahwa mereka sedang kesulitan. Mereka tetap tersenyum, tetap beraktivitas, tetapi di dalamnya sedang berusaha memahami banyak hal sekaligus.
Karena itu, penting bagi orang tua untuk tidak hanya melihat perilaku, tetapi juga memahami perasaan anak. Memberi ruang untuk bercerita, mendengarkan tanpa langsung menghakimi, dan hadir secara emosional bisa menjadi langkah sederhana yang berdampak besar. Karena pada akhirnya, anak tidak hanya butuh arahan, tetapi juga pemahaman.