Perkuat Riset Kesehatan, RI–China Bentuk Laboratorium Kedokteran Digital
- https://pixabay.com/illustrations/medical-health-laboratory-8562583/
Beijing, VIVA Mindset – Kementerian Kesehatan RI bersama Xuzhou Medical University (XZMU) di Provinsi Jiangsu, China, menyepakati pembentukan Laboratorium Bersama China–Indonesia untuk Kedokteran Digital dan Kesehatan Proaktif. Kerja sama ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kolaborasi riset dan pemanfaatan teknologi kesehatan antara kedua negara.
Kesepakatan tersebut dituangkan dalam Memorandum of Agreement (MoA) antara Kemenkes dan XZMU mengenai pembentukan laboratorium bersama. Penandatanganan kerja sama ini disaksikan langsung oleh Wakil Menteri Kesehatan RI Benjamin Paulus Octavius.
"Kerja sama ini menjadi fondasi penting dalam pengembangan sistem kesehatan digital dan penerapan AI medis yang bertujuan meningkatkan kualitas dan akses layanan kesehatan bagi masyarakat Indonesia," kata Benjamin dalam pernyataan tertulis yang dilansir oleh Antara di Beijing, Rabu, 21 Januari.
Kerja sama ini merupakan kelanjutan dari Nota Kesepahaman (MoU) antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Rakyat Tiongkok di bidang kesehatan dan standardisasi medis. MoU tersebut sebelumnya ditandatangani pada 9 November 2024 di Beijing dan disaksikan oleh Presiden Prabowo Subianto serta Presiden Xi Jinping.
Dalam rangka memperkuat implementasi kerja sama tersebut, Benjamin melakukan kunjungan ke China pada 15–18 Januari 2026. Selama kunjungan kerja itu, ia mendatangi tiga kota, yakni Xuzhou di Provinsi Jiangsu, Hefei di Provinsi Anhui, dan Hangzhou di Provinsi Zhejiang.
Agenda kunjungan tersebut difokuskan pada penguatan kemitraan internasional di sektor kesehatan, khususnya dalam pengembangan riset laboratorium, sistem informasi kesehatan, teknologi kecerdasan buatan medis, pendidikan tenaga kesehatan, pembangunan fasilitas layanan kesehatan, serta standardisasi industri alat kesehatan.
“Kolaborasi ini merupakan langkah strategis untuk mempercepat transformasi sistem kesehatan nasional melalui penguatan riset serta pemanfaatan teknologi digital dan AI medis yang aman, terstandar, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat,” tambah Benjamin.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, delegasi Indonesia juga melakukan peninjauan langsung terhadap penerapan teknologi AI pada layanan kesehatan primer. Selain itu, rombongan turut melihat pengembangan alat diagnostik tuberkulosis berbasis Tes Cepat Molekuler (TCM).
“Pemerintah Indonesia mendorong terjadinya alih teknologi dan penguatan industri alat kesehatan dalam negeri, termasuk rencana pengembangan fasilitas produksi TCM di Indonesia,” ujar Benjamin.