Alasan Mengapa “Orang Tua Favorit” Hanyalah Mitos
- https://pixabay.com/photos/mother-daughter-kiss-parent-child-6935336/
Parenting, VIVA Mindset – Anak lebih terikat pada sang ibu atau ayah? Jangan sedih. Ini bukan soal masalah favoritisme pribadi, melainkan soal biologi.
Dokter Anak asal AS Kristen Cook, MD. menulis di psychologytoday.com, bahwa sejak awal bayi secara neurologis memang “terprogram” untuk membentuk keterikatan dnegan pengasuhnya.
“Ini bukan tren pola asuh atau teori modern,” ungkapnya, pada tulisan yang dirilis Sabtu, 17 Januari. “Melainkan mekanisme bertahan hidup hasil evolusi.”
Bayi manusia sepenuhnya bergantung pada orang lain untuk memenuhi kebutuhan fisik dan emosionalnya. Sistem keterikatan (attachment) inilah yang memastikan kebutuhan tersebut terpenuhi.
Attachment terbentuk lewat interaksi yang berulang dan penuh respons emosional, seperti memberi makan, menenangkan, menggendong, menghibur, dan menanggapi sinyal bayi. Yang penting untuk dipahami: attachment bukan hanya soal apa yang dilakukan, tapi bagaimana melakukannya. Kehangatan, konsistensi, dan kepekaan emosional sama pentingnya dengan popok bersih atau susu.
Di bulan-bulan awal, bayi akan menangis, bersuara, atau tersenyum untuk menarik perhatian siapa saja. Pada tahap ini, siapa pun yang datang dan merespons sudah cukup. Namun setelah sekitar usia enam bulan, bayi mulai bisa membedakan pengasuh. Di sinilah figur keterikatan mulai terbentuk.
Mitos “Orang Tua Favorit”
Menjelang akhir masa bayi, anak biasanya memilih satu figur keterikatan utama, yaitu orang yang paling konsisten memenuhi kebutuhannya. Dalam banyak keluarga, sosok ini adalah ibu, terutama jika menyusui. Namun ini bukan aturan mutlak. Bayi yang minum susu formula juga sering memilih ibu, dan dalam keluarga tertentu, ayah atau pengasuh lain justru menjadi figur utama.
Saat mendekati usia 9–10 bulan, bayi mulai memiliki beberapa figur keterikatan yang tersusun dalam semacam “hierarki”. Ada sosok yang terasa paling aman, terutama saat anak lelah, stres, atau berpisah. Inilah sebabnya balita bisa sangat melekat pada satu orang tua, menangis saat orang itu pergi, atau menolak ditenangkan oleh orang lain.
“Kelihatannya seperti masalah pribadi. Padahal bukan. Ketika anak menangis memanggil satu orang tua atau menolak yang lain, itu bukan penilaian tentang cinta atau nilai diri. Itu adalah perilaku keterikatan atau respons biologis untuk mengembalikan rasa aman,” ujar dokter yang juga merupakan seorang penulis ini.