7 Alasan Mengapa Kamu Tertarik pada Pria yang Tidak Siap Secara Emosional
- https://pixabay.com/photos/man-model-guy-young-4066362/
Kesehatan, VIVA Mindset – Ada alasan mengapa ada perempuan yang cenderung tertarik pada laki-laki yang tidak tersedia secara emosional, atau dalam istilah lain laki-laki yang masuk ke dalam kategori “bad boy”. Hal tersebut ternyata tidak terjadi secara kebetulan. Pola ketertarikan kita dibentuk oleh attachment, pengalaman relasi sejak dini, mekanisme bertahan hidup yang kita bangun untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan, serta respons sistem saraf kita. Hubungan yang kita kejar itu, sering kali berakar pada rasa familiar, bukan kesehatan emosional.
Hal ini dibahas oleh Psikolog Klinis AS Duygu Balan, LPCC, LMHC, di psychologytoday.com, Sabtu, 17 Januari. “Siapa yang kita sukai jarang terjadi secara kebetulan. Kita tidak tertarik pada seseorang yang jarang membalas pesan hanya karena mereka menarik secara fisik,” tulisnya. Ia mengatakan, kerentanan memang memikat. Tapi, tidak akan pernah cukup untuk membuat kita merasa aman.
Berikut tujuh alasan (berbasis trauma dan attachment), mengapa daya tarik “bad boy” bisa terasa begitu kuat.
Familiar Disangka Chemistry
Pola emosional masa kecil membuat hal yang tidak sehat terasa akrab dan “klik”, meski sebenarnya disfungsional. Hal yang terasa familiar tidak selalu baik untik kita. Kita bisa tertarik pada pola disfungsional yang sama, secara tidak sadar berusaha “memperbaiki” masa lalu, berharap kali ini hasilnya berbeda, atau sekadar karena yang kita kenal terasa lebih aman daripada yang asing.
Intensitas Dianggap Keintiman
Hubungan naik-turun terasa dalam, padahal itu respons stres, bukan kedekatan emosional. Hubungan yang aman biasanya lebih stabil dan teratur. Mereka tidak terus-menerus memicu respons stres. Bagi orang dengan riwayat trauma, stabilitas justru bisa terasa membosankan atau bahkan mencurigakan.
Cinta Terasa Harus Diperjuangkan
Jika terbiasa dengan cinta bersyarat, kamu cenderung memilih pasangan yang menuntut pengorbanan diri. Jika sejak kecil kamu terbiasa lebih peka terhadap emosi orang lain daripada emosimu sendiri, menekan kebutuhan dan keinginan pribadi bisa terasa otomatis. Dan jika dulu kamu berperan menenangkan orang tua atau menjaga situasi tetap stabil, kamu bisa tanpa sadar memilih pasangan yang membuatmu kembali berjalan di atas kulit telur. Ini bukan romansa, melainkan upaya keliru untuk menyembuhkan luka lama dengan mengulanginya.