Emotional Inheritance, Benarkah Luka Emosional Bisa Diwariskan?
- https://www.pexels.com/id-id/foto/anak-laki-laki-yang-duduk-di-tanah-bersandar-pada-dinding-batu-bata-262075/
Dampak Emotional Inheritance
Trauma yang diwariskan tidak selalu muncul dalam bentuk kenangan atau cerita yang jelas. Sebaliknya, dampaknya dapat terlihat melalui berbagai respons emosional maupun perilaku yang terkadang sulit dipahami penyebabnya.
Beberapa kondisi yang dikaitkan dengan emotional inheritance antara lain kecemasan, depresi, rasa takut ditinggalkan, pola pikir negatif, perilaku yang sulit dijelaskan, hingga gangguan stres pascatrauma (post-traumatic stress disorder atau PTSD).
Karena tidak selalu berkaitan dengan pengalaman pribadi, seseorang mungkin merasa bingung mengapa mereka memiliki ketakutan atau reaksi emosional tertentu. Dalam beberapa kasus, pola tersebut dapat berakar pada pengalaman yang pernah dialami anggota keluarga di generasi sebelumnya.
Mengapa Pola ini Bisa Terus Berulang?
Trauma yang belum terselesaikan dapat membentuk pola yang terus berulang dalam keluarga. Pola tersebut tidak hanya berkaitan dengan aspek biologis, tetapi juga dapat muncul melalui cara berkomunikasi, pola pengasuhan, respons terhadap konflik, hingga kebiasaan menghadapi tekanan.
Akibatnya, generasi berikutnya dapat tumbuh dalam lingkungan yang tanpa disadari membawa dampak dari trauma masa lalu. Pola-pola tersebut kemudian terus diwariskan hingga ada seseorang yang mulai menyadarinya dan berupaya memutus siklus tersebut.
Trauma yang dialami orang tua juga memiliki pengaruh yang cukup besar. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak dari penyintas trauma dapat memiliki perbedaan dalam kadar hormon stres maupun pola ekspresi gen dibandingkan anak yang orang tuanya tidak mengalami trauma. Dampaknya pun dapat berbeda, tergantung apakah trauma dialami oleh ibu, ayah, atau keduanya.
Bagaimana Cara Memutus Siklus Trauma?
Menurut mayfairtherapy.clinic, langkah pertama untuk mengatasi trauma antargenerasi adalah menyadari bahwa pola emosi atau perilaku tertentu mungkin memiliki akar yang lebih dalam dari pengalaman pribadi.
Kesadaran tersebut dapat menjadi awal untuk mengeksplorasi sejarah keluarga, mengenali pola yang berulang, dan memahami bagaimana pengalaman masa lalu memengaruhi kehidupan saat ini. Salah satu pendekatan yang disebutkan efektif dalam proses ini adalah terapi psikodinamik, yang membantu individu mengeksplorasi pengalaman emosional, hubungan keluarga, serta konflik yang belum terselesaikan.