Waspada Keracunan Makanan, Ini Langkah Pertolongan Pertama dan Cara Mencegahnya
- https://www.magnific.com/free-photo/man-standing-with-stomachache-put-your-hands-your-stomach-cover-your-mouth_10316977.htm
Kesehatan, VIVA Mindset –Kasus dugaan keracunan makanan massal yang melibatkan ratusan siswa dan penerima manfaat program bantuan pangan menjadi pengingat pentingnya menjaga keamanan makanan. Keracunan makanan atau penyakit akibat makanan dapat terjadi setelah seseorang mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi bakteri, virus, parasit, toksin, maupun zat kimia berbahaya.
Kontaminasi dapat terjadi pada berbagai tahap, mulai dari pemilihan bahan, pengolahan, penyimpanan, hingga proses pengangkutan dan penyajian makanan.
Gejala juga tidak selalu muncul segera setelah makanan dikonsumsi. Karena itu, penting bagi orang tua, guru, maupun masyarakat untuk mengenali gejala, mengetahui pertolongan pertama, serta memahami kapan penderita perlu segera mendapatkan bantuan medis.
Mengenali Gejala Keracunan Makanan
Gejala keracunan makanan dapat berbeda-beda, tergantung pada penyebab dan kondisi tubuh penderita. Mengutip edukasi kesehatan dari keslan.kemkes.go.id, beberapa keluhan klinis yang umum muncul antara lain:
- Mual dan muntah.
- Diare, yang dapat berupa diare berair dan pada kondisi tertentu disertai darah.
- Kram atau nyeri perut yang hebat.
- Demam tinggi.
- Pusing dan lemas berlebihan, terutama ketika tubuh kehilangan banyak cairan.
Gejala dapat muncul dalam hitungan jam hingga beberapa hari setelah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi. Waktu munculnya keluhan sangat bergantung pada jenis mikroorganisme atau zat pemicunya.
Langkah Pertolongan Pertama Saat Terjadi Keracunan
Jika seseorang mengalami muntah dan diare setelah mengonsumsi makanan yang sama dengan orang lain, jangan panik. Merujuk panduan medis dari keslan.kemkes.go.id dan ayosehat.kemkes.go.id, hal terpenting adalah mencegah kekurangan cairan dan mengenali tanda bahaya:
- Berikan Oralit untuk Mencegah Dehidrasi: Muntah dan diare membuat tubuh kehilangan cairan serta elektrolit secara drastis. Berikan cairan oralit sedikit demi sedikit tetapi sering, terutama jika penderita masih merasa mual.
- Berikan Makanan secara Bertahap: Penderita yang masih sering muntah mungkin kesulitan menerima makanan. Setelah muntah berkurang, berikan makanan dalam porsi kecil dan mudah dicerna (seperti bubur polos) secara bertahap sesuai toleransi.
- Jangan Memberikan Obat Sembarangan: Hindari memberikan obat anti-diare atau obat penghenti muntah tanpa resep dokter, terutama pada anak. Diare dan muntah merupakan mekanisme alami tubuh untuk membuang racun keluar.
- Segera Cari Pertolongan Medis jika Muncul Tanda Bahaya: Segera bawa penderita ke puskesmas, klinik, atau rumah sakit jika mengalami penurunan kesadaran, tidak bisa minum/muntah terus-menerus, mata cekung, tidak buang air kecil, atau terdapat darah pada muntahan/tinja.