Kenapa Anak Bermain dengan Makanan? Ini Solusinya!
- https://www.freepik.com/free-photo/portrait-cute-little-boy-playing-with-banana_13793167.htm
Parenting, VIVA Mindset – Pernah duduk di meja makan dan menyaksikan anak yang lebih asyik “mengukir” makanan di piring daripada memasukkannya ke mulut? Ini adalah fenomena yang sangat umum di kalangan balita. Banyak anak bereksplorasi dengan makanan sebagai bagian dari proses belajar mereka. Seperti yang dijelaskan dalam artikel dari BabyCenter, sebuah sumber parenting yang banyak dijadikan rujukan oleh banyak orang tua di seluruh dunia.
Pada tahap awal perkembangan, balita sering memainkan makanan mereka. Ini adalah bagian dari perkembangan sensori anak. Mereka ingin merasakan, mencium, memencet, dan melihat tekstur makanan dari sudut lain selain sekadar rasa. Para ahli tumbuh kembang menyatakan bahwa ini normal dan anak belajar banyak dari pengalaman itu. Namun, jika permainan makanan ini berubah menjadi rutinitas yang mengganggu waktu makan normal, ada beberapa strategi yang bisa diterapkan.
Pertama, penting untuk menetapkan batasan makan yang jelas. Anak perlu tahu bahwa makanan tersedia untuk dimakan, bukan untuk dibentuk menjadi “mainan” atau lemparan. Bila anak mulai bermain dengan makanan, orang dewasa bisa memberikan pertanyaan sederhana seperti “Apakah ini artinya selesai makan?” dan memberi kesempatan untuk makan atau menyudahi makanannya. Jika permainan berlanjut, waktu makan dapat diakhiri dengan tenang. Teknik semacam ini membantu anak memahami aturan makan anak bukan sebagai hukuman tetapi sebagai batasan yang konsisten.
Selain itu, mengurangi gangguan di sekitar meja makan membantu fokus mereka pada makanan. Bila balita terbiasa melihat gadget, mainan, atau televisi saat makan, kemungkinan mereka bermain dengan makanan meningkat karena kurangnya fokus pada terapi makan anak. Suasana meja yang sederhana dan nyaman memberi ruang bagi mereka untuk belajar makan dengan benar tanpa gangguan.
Salah satu pendekatan efektif adalah memberi porsi kecil makanan, sehingga anak tidak merasa kewalahan dan lebih mudah fokus pada gigitan pertama. Jika porsi kecil itu habis, baru bisa ditambah lagi, ini mengurangi kecenderungan untuk memainkan makanan sebagai bentuk kebosanan atau kelebihan porsi.
Tidak kalah penting adalah memperkenalkan rutinitas makan yang konsisten. Balita cenderung lebih tenang saat mereka tahu kapan harus makan dan kapan waktu selesai makan. Hadir di meja bersama dan memberi contoh dengan cara yang menyenangkan membantu membangun hubungan positif dengan makanan.