Ngaji Pasaran, Tradisi Santri Sunda di Bulan Ramadan
- Unsplash @bysamsul
Adapun tema kitab yang dipilih biasanya menyesuaikan spesialisasi pesantren yang bersangkutan. Akan tetapi kebanyakan merupakan kitab tasawuf, tuntunan ibadah, atau akidah.
Sebagai contoh, Bidayatul Hidayah, kitab tasawuf karya Al-Ghazali, Qami’uth Thugyan, kitab akidah karya Syekh Nawawi, atau bahkan Badaiuz Zuhur, kitab qasas karya Imam Jalaluddin As-Suyuthi.
Meski demikian, kadang juga ada pesantren yang menawarkan kitab babon dan tebal untuk dikaji dalam ngaji pasaran. Jika demikian biasanya nanti akhir ngaji pasaran bisa sampai tanggal 25, atau bisa juga selesai tanggal 20 tapi pengajian per harinya dilakukan lebih lama.
Ngaji pasaran sifatnya ngaji tambahan dan tidak wajib diikuti oleh santri pesantren yang mengadakan. Ngaji pasaran juga bukan khusus diperuntukkan santri pesantren yang bersangkutan.
Oleh sebab itu, ngaji pasaran juga biasanya menjadi momen bagi santri untuk mencoba ngaji kitab yang mereka inginkan sebagai tambahan di pesantren lain.
Faktor kitab apa yang dikaji dan siapa yang mengajar biasanya menjadi pertimbangan santri untuk memilih mengikuti ngaji pasaran di pesantren tertentu.
Selain bisa menjadi ajang menambah ilmu di luar kitab-kitab wajib yang selama ini mereka kaji, ngaji pasaran di Sunda juga bisa menjadi ajang silaturahmi. Nanti saat khataman atau akhir pengajian saat kitab tamat, biasanya diadakan syukuran makan nasi liwet bareng-bareng.