Kasus Dugaan Keracunan MBG di Grobogan Capai 658 Orang
- website boyolali.inews.id
Grobogan, VIVA Mindset – Tercatat 658 orang terdampak dugaan keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah sekolah dan satuan pendidikan di wilayah Kecamatan Gubug. Terjadi sejak Jumat, 9 Januari hingga Sabtu, 10 Januari, disampaikan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Dikutip dari antaranews.
Kepala Dinkes Kabupaten Grobogan Djatmiko di Grobogan, Minggu, mengatakan korban tersebar di berbagai lokasi, mulai dari SMP, SMK, dan SD negeri di wilayah Ngroto, hingga PAUD Ngroto, SD Glapan, SD Trisari, serta SD Penadaran.
"Total korban sementara ada 658 orang, dengan lokasi terdampak meliputi Desa Ngroto, Penadaran, Glapan, Trisari. Dari jumlah tersebut sebagian besar sudah ditangani, baik melalui rawat jalan maupun perawatan lanjutan," ucapnya.
Diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi menu MBG, ratusan korban merupakan siswa SD hingga santri pondok pesantren di Kecamatan Gubug, Menu MBG tersebut dibagikan pada Jumat, 9 Januari. MBG tersebut diketahui disuplai oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kuwaron.
Hingga Minggu, 11 Januari pagi tercatat 79 orang masih menjalani perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan, dengan rincian 11 orang dari Pondok Pesantren Miftahul Huda, 39 orang dirawat di RS Ki Ageng Getas Pendowo (Gubug), 11 orang di RS Soedjati, sembilan orang di UPTD Puskesmas Penawangan 1, tujuh orang di Puskesmas Kedungjati, serta dua orang di Puskesmas Gubug 1.
"Jumlah ini bersifat dinamis. Ada pasien yang kondisinya membaik dan dipulangkan, namun juga ada potensi penambahan. Data akan kami perbarui setiap 12 jam," kata Djatmiko.
Gejala yang paling banyak dialami para korban adalah mual dan muntah. Dugaan sementara, keluhan tersebut muncul setelah korban mengonsumsi makanan MBG pada Jumat, 9 Januari siang berupa nasi kuning dengan lauk telur, abon, dan tempe orek. Gejala mulai dirasakan sejak Jumat sore hingga Sabtu pagi. Hal tersebut disampaikan oleh Djatmiko.
Sejak Sabtu, 10 Januari pagi, tim Dinkes bersama puskesmas setempat turun ke lapangan untuk melakukan pengobatan, pendataan, serta pemilahan pasien, baik yang cukup menjalani rawat jalan maupun yang memerlukan rujukan ke rumah sakit.
"Kami melibatkan beberapa puskesmas terdekat agar penanganan lebih cepat. Pasien yang tidak memerlukan rawat inap ditangani di lokasi, sementara yang membutuhkan perawatan lanjutan langsung dirujuk ke fasilitas kesehatan," ujarnya.