Anak Gaza Menantang Peluru di Sekolah Tenda
- https://www.nationalheraldindia.com/international/gaza-children-brave-sniper-fire-to-attend-makeshift-tent-schoolsnationalheraldindia
Palestina, VIVA Mindset – Beit Lahiya, Palestina – Di tengah puing-puing bangunan dan dentuman tembakan yang tak jauh dari pemukiman, puluhan anak di Jalur Gaza terpaksa bersekolah di tenda darurat yang berdiri tak jauh dari zona yang disebut “zona kuning”, area rawan tembakan sniper dan peluru nyasar pasukan Israel.
Tenda-tenda berkanvas tipis itu menjadi ruang kelas sementara setelah hampir seluruh sekolah di wilayah itu hancur akibat serangan berkepanjangan, memaksa keluarga dan relawan menjadikannya satu-satunya tempat bagi anak-anak untuk kembali belajar.
Seorang ibu bernama ibu Tulin menggambarkan setiap pagi mengantar putrinya berusia tujuh tahun ke sekolah sebagai perjalanan yang selalu diiringi rasa cemas, karena jalur menuju tenda penuh reruntuhan dan berada dekat garis kontak dengan militer Israel.
“Sampai anak saya tiba di sekolah, rasanya seperti berjalan dengan jantung di tangan,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari laporan Al Jazeera yang dimuat National Herald India.
Sang ibu mengaku berkali-kali secara refleks mengikuti langkah putrinya dari kejauhan, meski menyadari ancaman tembakan tetap mengintai di sepanjang jalan.
Di dalam ruang kelas berkanvas, para siswa belajar dalam kondisi serba kekurangan dengan perlindungan hampir nol dari potensi tembakan.
Guru setempat menceritakan kepada Al Jazeera, dilansir National Herald India, bahwa setiap kali terdengar suara tembakan atau letupan senjata, anak-anak diminta segera tiarap mengambil “posisi tidur” di lantai tanah sambil sang guru berdoa agar tidak ada peluru yang menembus kain tenda.
“Lokasinya sangat dekat dengan pasukan pendudukan.
Saat tembakan dimulai, kami hanya bisa berharap tidak ada yang terluka,” kata sang guru, menegaskan bahwa di tengah kebijakan yang ia sebut mendorong kebodohan, mereka justru menjawabnya dengan tekad untuk terus menuntut ilmu.
Di antara para murid itu ada Ahmed, seorang bocah yang kehilangan ayahnya dalam konflik, namun tetap memaksakan diri menempuh perjalanan pergi dan pulang di bawah bayang-bayang peluru.
Ia mengaku sering berangkat dan pulang “dengan susah payah” karena suara tembakan yang sewaktu-waktu pecah di sekitar mereka, namun tetap berkeras sekolah demi mewujudkan cita-cita menjadi dokter, melanjutkan mimpi sang ayah yang gugur.