Brent Naik Tipis, Sanksi Venezuela & Drone Ukraina Goyang Pasar
- https://energynews.oedigital.com/refined-products/2026/01/01/oil-prices-rise-after-biggest-annual-decline-since-2020
Singapura, VIVA Mindset – Singapura – Harga minyak Brent dunia naik tipis menjadi US$60,99 per barel pada hari perdagangan pertama 2026 setelah mengalami penurunan tahunan terburuk sejak 2020, dipicu oleh blokade Amerika Serikat terhadap ekspor Venezuela dan serangan drone Ukraina ke instalasi minyak Rusia, Jumat, 1 Januari 2026.
Kenaikan 14 sen ini terjadi setelah Brent dan WTI anjlok hampir 20% sepanjang 2025 akibat kekhawatiran kelebihan pasokan OPEC+ yang mengalahkan risiko geopolitik.
Florence Tan, reporter Reuters yang dilansir dari Energy News OE Digital, mengonfirmasi pergerakan harga pada Jumat, 1 Januari 2026.
"Blokade AS mencegah kapal tanker sanksi memasuki atau meninggalkan Venezuela, memaksa PDVSA kesulitan mengelola stok bahan bakar yang menumpuk demi menjaga kilang tetap beroperasi," tulis Tan.
Ia menambahkan bahwa serangan drone Kyiv ke infrastruktur energi Rusia baru-baru ini memicu premium risiko baru di pasar global.
Energy Information Administration AS melaporkan produksi minyak domestik mencapai rekor 13,87 juta barel per hari pada Oktober, dengan stok mentah turun sementara bensin dan distilat justru naik akibat refining agresif.
Penurunan Brent berturut-turut ketiga tahun ini menjadi rekor terpanjang dalam sejarah, meski Rusia dan Ukraina saling tuding serangan warga sipil saat perundingan damai dengan Presiden Trump.
Kondisi ini memicu volatilitas pasar energi global di tengah negosiasi perdamaian Ukraina dan sanksi Venezuela.
Pasar menanti respons OPEC+ terhadap defisit Venezuela. Hingga kini, belum ada proyeksi resmi harga kuartal pertama 2026.