Ayah Sibuk Gadget, Anak Belajar Mengabaikan: Dampak Tersembunyi Technofeference

Anak butuh perhatian, bukan sekadar kehadiran. Simpan hp-mu!
Sumber :
  • https://www.pexels.com/id-id/foto/pria-laki-laki-lelaki-smartphone-4260638/

Parenting, VIVA MindsetDi era digital, smartphone menjadi bagian dari keseharian hampir setiap orang. Namun, di balik kemudahan teknologi, ada dampak yang sering tidak disadari, terutama dalam hubungan orang tua dan anak. Kehadiran fisik saja tidak cukup jika perhatian justru teralihkan pada layar ponsel.

img_title Memahami Akar Masalah Kehilangan Motivasi Belajar Anak

Dilansir dari edufic.id, kebiasaan orang tua yang sibuk dengan gadget dapat membentuk cara anak memandang perhatian, hubungan, dan kehadiran orang terdekatnya.

Anak Belajar dari Apa yang Mereka Lihat

img_title Wajib Tahu! Cara Asyik Ajari Anak Menulis dan Berhitung

Anak adalah peniru yang sangat baik. Mereka tidak hanya mendengar nasihat, tetapi juga mengamati perilaku orang tua setiap hari. Ketika ayah lebih sering menatap layar ponsel dibanding menatap anak, pesan yang tertanam adalah perhatian bukan prioritas.

Kondisi ini membuat anak perlahan belajar mengabaikan kehadiran orang lain. Bahkan, mereka dapat meniru pola tersebut dalam pertemanan dan hubungan sosial di masa depan.

img_title Seni Mengajar Tanpa Membuat Anak Tertekan

Fenomena Technofeference dalam Keluarga

Dilansir dari edufic.id, interaksi orang tua yang terganggu teknologi dikenal sebagai technofeference. Kondisi ini terjadi ketika komunikasi dan kedekatan emosional terpecah karena kehadiran perangkat digital.

Penelitian menunjukkan bahwa anak dari orang tua yang sering menggunakan smartphone di depan mereka cenderung memiliki ekspresi positif yang lebih sedikit. Anak juga menunjukkan usaha lebih besar untuk mendapatkan perhatian, seperti berperilaku berlebihan atau mudah rewel.

Dampak Waktu Layar terhadap Struktur Otak Anak

Teknologi tidak hanya memengaruhi hubungan emosional, tetapi juga perkembangan otak anak.

Screen Time dan White Matter

Dilansir dari edufic.id, riset MRI pada anak prasekolah menemukan bahwa screen time tinggi berhubungan dengan integritas white matter yang lebih rendah pada jalur bahasa dan literasi.

White matter berperan penting dalam kemampuan berpikir, komunikasi, dan proses belajar. Jika kualitasnya menurun, anak berpotensi mengalami kesulitan fokus dan memahami informasi.

Gangguan Fokus Akibat Smartphone

Penelitian EEG pada anak usia 5 hingga 8 tahun menunjukkan bahwa kehadiran smartphone di dekat anak saat mengerjakan tugas dapat menurunkan frekuensi theta frontal. Kondisi ini berkaitan dengan kontrol perhatian yang lebih rendah.

Halaman Selanjutnya
img_title