Waspada Brain Rot! Pentingnya Parenting Minimalis di Era Overstimulasi digital
- https://images.pexels.com/photos/11497639/pexels-photo-11497639.jpeg
Parenting, VIVA Mindset –Istilah brain rot sedang populer belakangan ini. Secara sederhana, brain rot merupakan kondisi ketika otak mengalami penurunan fokus, sulit berpikir kritis, mudah bosan serta menurunnya kemampuan kognitif yang disebabkan oleh seringnya menonton konten digital secara terus-menerus dan berlebihan.
Mulai dari anak-anak, bahkan balita pun saat ini sudah akrab dengan gadget. Jika overstimulasi digital tidak segera ditangani, hal ini akan berakibat pada emosi anak yang mudah meledak, hingga ketergantungan pada layar untuk mencari hiburan.
Lalu apa yang harus orang tua lakukan?
Orang tua bisa menerapkan parenting minimalis. Bukan berarti anti gadget dan melarang total teknologi, tapi menyederhanakan, mengurangi sesuatu yang tidak perlu, memperjelas batas, membuat aturan dan memprioritaskan kualitas suatu tontonan. Dalam hal ini, orang tua bisa memberikan anak waktu untuk bermain gadget, dengan catatan memilih beberapa platform edukatif yang sesuai dengan usianya. Batas waktu pun disepakati terlebih dahulu, misal 10 menit setelah selesai mengerjakan tugas, atau maksimal berapa jam setiap harinya. Hal ini harus dilakukan secara konsisten dan tegas.
Konten-konten di sosial media dibuat dengan tujuan untuk menarik perhatian secepat mungkin. Akibatnya, anak menjadi sulit melewati proses yang lambat. sederhananya saat membaca buku atau mendengarkan guru di kelas, ia akan mudah merasa bosan.
Overstimulasi digital pada anak dapat ditandai dengan:
1. Gelisah ketika tidak memegang gadgetnya
2. Mudah emosi saat diminta berhenti menonton
3. Sulit fokus saat melakukan aktivitas sehari-hari
4. Cepat bosan dan mudah teralihkan perhatiannya pada saat mengerjakan suatu pekerjaan.
Untuk menyikapi kejadian tersebut, ada beberapa cara parenting minimalis yang bisa diterapkan, yaitu:
1. Mengurangi distraksi di rumah. Ciptakan sebuah ruangan hening, di mana anak akan mulai belajar menikmati rasa bosannya sendiri. Biasanya, dari situlah akan muncul sebuah kreativitas.
2. Setiap orang tua adalah teladan. Anak akan meniru apa yang dilakukan orang tua, bukan hanya sekadar mendengar dan melihat. Jika orang tua terlalu banyak menghabiskan waktu dengan layar gadgetnya, maka anak pun akan melakukan hal yang sama.