Capek Hadapi Anak Susah Makan? Ini Cara Bantu Ibu Bertahan!
- https://www.freepik.com/free-photo/front-view-picky-girl-refuse-vegetables_5474927.htm
Parenting, VIVA Mindset –Menghadapi balita yang pilih makanan atau ‘picky eater’ sering membuat orang tua frustrasi dan merasa terbebani. Banyak ibu merasa tertekan saat teman, keluarga, atau bahkan pakar memberi tekanan agar anak makan lebih banyak. Namun menurut artikel dari DiscerningParenting.com, hal seperti itu justru bisa mengganggu kemampuan orang tua untuk menerapkan pendekatan makan yang sehat dan penuh empati berdasarkan sinyal lapar si kecil.
1. Nilai Diri Tidak Ditentukan dari Porsi Makan
Jika anak tidak mau menyelesaikan piringnya, itu bukan ukuran nilai diri ibu. Tidak sedikit ibu yang merasa gagal hanya karena anak hanya makan sedikit atau memilih makanan tertentu. Self-worth ibu tidak seharusnya diukur dari jumlah makanan yang masuk ke mulut anak melainkan dari bagaimana orang tua tetap tenang, sabar, dan responsif terhadap kebutuhan anak.
2. Pahami Responsive Feeding
Responsive feeding adalah pendekatan makan yang berdasarkan pada sinyal lapar dan kenyang anak bukan memaksa mereka makan. Ketika orang tua fokus pada strategi makan sehat ini, anak lebih mungkin membangun hubungan positif dengan makanan serta mengurangi risiko obesitas di kemudian hari. Orang tua didorong untuk merespon dengan tenang terhadap tanda lapar, keengganan, atau penolakan, bukan melawan atau memaksakan kehendak.
3. Makan Itu Aktivitas Sosial
Waktu makan tidak hanya soal nutrisi. Saat anak makan bersama keluarga, mereka sebenarnya belajar keterampilan penting lain seperti bahasa, keterampilan sosial anak, koordinasi tangan-mata, serta cara mandiri. Mewujudkan suasana makan positif dan tidak stres akan membantu anak berkembang dalam banyak aspek kemampuan selain hanya makan.
4. Hindari Memaksa Anak Makan
Orang tua disarankan agar tidak memaksa anak menghabiskan makanan. Tekanan makan sering membuat anak makin menolak makanan atau mengaitkan makan dengan stres. Ketika makan menjadi negatif, hubungan anak dengan makanan bisa menurun. Sebaliknya, membiarkan anak mengeksplorasi makanan sendiri bisa membuat mereka lebih tertarik untuk mencoba hal baru.
5. Fokus pada Proses, Bukan Hasil
Daripada berfokus pada seberapa banyak makanan yang dimakan bayi atau balita, orang tua disarankan melihat proses makan sebagai perjalanan belajar. Ini berarti memberi anak pilihan yang sehat, porsi yang sesuai, dan kesempatan untuk mencoba tanpa tekanan. Dengan ini, anak dapat mengembangkan kebiasaan makan sehat secara alami tanpa drama di meja makan.