Perilaku Anak Terjadi Tanpa Sempat Dicegah? Ini Respons yang Tepat
- https://www.freepik.com/free-photo/little-child-painting-like-artist_4653983.htm
Parenting, VIVA Mindset –Saat tumbuh, banyak anak menunjukkan perilaku impulsif, seperti menggambar di dinding, menumpahkan air, atau merobek buku, sering kali baru terlihat setelah kejadian berlangsung. Dalam artikel “When We’re Too Late to Stop the Behavior (Now What?)” oleh Janet Lansbury di situs janetlansbury.com, dijelaskan bagaimana merespons perilaku semacam itu dengan cara yang tenang dan bermanfaat, bukan sekadar marah atau menghukum.
Respon alami terhadap kejadian ini mungkin adalah kaget atau kesal. Namun langkah pertama yang disarankan adalah menarik napas dan menenangkan diri sebelum bereaksi. Ini membantu melihat kejadian sebagai pesan penting dari anak, yang sebenarnya bisa menjadi peluang untuk memahami apa yang sedang terjadi dalam diri mereka.
Secara praktis, setelah pola perilaku impulsif terlihat, pastikan situasi tidak semakin memburuk dengan mengambil langkah pencegahan, seperti menjauhkan benda berbahaya, menyimpan alat tulis keluar dari jangkauan, atau menghentikan situasi yang dapat melukai anak atau orang lain. Ini bukan sekadar soal menghentikan tindakan, tetapi juga tentang strategi disiplin anak yang efektif dan aman.
Setelah itu, daripada marah atau menghakimi, lebih bermanfaat untuk mengakui kejadian itu dengan nada yang tenang. Misalnya, menyampaikan observasi tanpa kemarahan seperti, “Aku lihat dindingnya sudah penuh crayon,” atau “Wah, airnya tumpah ke lantai.” Kalimat sederhana seperti ini membuat anak merasa didengar dan pemahaman bersama bisa dibangun.
Janet Lansbury menekankan bahwa perilaku seperti ini biasanya bersifat impulsif. Anak tahu peraturan, tetapi bagian otak yang mengendalikan pengendalian diri masih belum matang. Situasi seperti ini bukan cerminan kesengajaan, melainkan cara anak mengatasi perasaan yang tiba-tiba atau kebutuhan yang belum mereka bisa ungkapkan. Memahami hal ini membantu menerapkan teknik komunikasi efektif anak yang lebih tepat sasaran.
Alih-alih sekadar menghukum, lebih baik melihat lebih dalam: apa yang mungkin membuat anak bereaksi demikian? Perubahan dalam hidup, kebutuhan untuk perhatian lebih, atau rasa frustrasi bisa menjadi penyebabnya. Respons yang penuh empati dan penjelasan sederhana membantu anak merasa dimengerti dan lebih terhubung secara emosional.