5 Cara Menghadapi Anak Tantrum Tanpa Membentak

Gambaran anak tantrum
Sumber :
  • https://www.kanya.id/read/036295/jangan-dilarang-lakukan-6-hal-ini-saat-anak-menangis

Parenting, VIVA Mindset –Tantrum adalah bagian normal dari perkembangan emosi anak, terutama pada usia balita hingga prasekolah. Meski begitu, menghadapi anak yang menangis keras, berteriak, atau berguling di lantai sering kali membuat orang tua kewalahan dan ikut terpancing emosi. Alih-alih membentak, ada cara yang lebih tenang dan efektif untuk membantu anak belajar mengelola perasaannya. Dengan pendekatan yang tepat, momen tantrum justru bisa menjadi kesempatan untuk membangun komunikasi dan kedekatan dengan anak.

img_title Menavigasi Batasan Screen Time di Era Digital: Risiko Speech Delay dan Pentingnya Digital Detox

Terkadang anak tantrum di waktu dan tempat yang kurang tepat seperti di tempat umum saat banyak orang yang melihatnya. Situasi ini mungkin membingungkan bagi orang tua terkait langkah apa yang harus dilakukan. Dikutip dari Jurnal Kajian Anak (J-Sanak)Berikut beberapa cara menghadapi anak tantrum tanpa membentak:

1. Mendampingi anak ketika sedang terjadi tantrum serta tidak membiarkannya sendirian. Hal ini dilakukan agar perilaku tantrum tidak semakin parah. Jika tantrumnya anak dirasa membahayakan maka orang tua segera mengambil tindakan.

img_title Mengatasi Tantrum Anak Usia Dini dengan Metode Emotion Coaching

2. Orang tua memvalidasi perasaan anak serta mengajak anak berbicara setelah emosinya mereda, lalu memberinya nasihat terhadap perilaku yang telah dilakukan juga akibat yang merugikan atas perbuatannya.

3. Memberikan pilihan terhadap anak dan menetapkan batasan yang konsisten

img_title Tanda Keterlambatan Motorik Bayi yang Perlu Diwaspadai Orang Tua

4. Orang tua senantiasa membimbing anak ke arah yang lebih positif ketika anak mulai meluapkan emosinya

5. Orang tua harus bisa lebih mengenal karakter anak untuk menghadapi perilaku tantrum pada anak

Selanjutnya orang tua harus lebih memahami dan memperkirakan apa saja penyebab tantrum pada anak. Hal ini bisa terjadi karena beberapa faktor seperti keinginan yang tidak terpenuhi, ketakutan, lapar, kelelahan, tidak bisa mengungkapkan apa keinginannya, kesulitan, perubahan rutinitas, dan lainnya. Orang tua juga sebaiknya menjauhkan benda-benda berbahaya ketika ada tanda-tanda anak akan tantrum.

Menghadapi anak tantrum memang tidak selalu mudah, tetapi dengan kesabaran dan respons yang tepat, orang tua dapat membantu anak belajar mengenali serta mengelola emosinya. Ingat, tantrum bukan sekadar perilaku “nakal”, melainkan bagian dari proses tumbuh kembang anak. Dengan sikap tenang dan konsisten, momen tantrum bisa menjadi kesempatan berharga untuk memperkuat hubungan dan membangun kepercayaan anak kepada orang tua.