Tanpa Sadar Abaikan Perasaan Anak? Ini Solusinya!
- https://www.freepik.com/free-photo/close-up-woman-kid-therapy_21531762.htm
Parenting, VIVA Mindset –Tanpa disadari, orang tua sering kali mengabaikan perasaan anak dalam interaksi sehari-hari, padahal maksudnya baik. Artikel dari JanetLansbury.com yang membahas bagaimana kita kadang menginvalidasi emosi anak tanpa sengaja menjelaskan bahwa ketika perasaan anak tidak diterima atau direspon dengan cara yang kurang sensitif, hal ini bisa menghambat kemampuan mereka untuk memproses perasaan itu dengan sehat.
Sering kali orang tua melihat perilaku anak sebagai “masalah” yang harus segera diperbaiki. Misalnya, saat seorang anak frustrasi karena kalah dalam permainan, orang tua bisa tergoda untuk langsung mengatakan bahwa anak itu seharusnya tidak merasa sedih atau mengoreksi cara anak mengekspresikan emosinya. Reaksi seperti ini meskipun bermaksud membantu, pada kenyataannya menghambat perkembangan emosi anak dan membuat mereka merasa bahwa apa yang mereka rasakan “salah”.
Apa artinya menginvalidasi anak secara tidak sengaja? Itu adalah ketika kata-kata atau respon orang tua membuat anak merasa bahwa perasaan mereka tidak penting atau tidak layak didengar. Misalnya menegur anak karena “terlalu emosional”, “harusnya sudah bisa lebih baik”, atau memaksa mereka cepat berhenti menangis tanpa memberi ruang bagi anak untuk menjelaskan perasaannya.
Berdasarkan tulisan di JanetLansbury.com, cara yang lebih efektif adalah dengan mengakui dan menerima perasaan anak terlebih dahulu sebelum menuju ke solusi atau pengajaran perilaku. Dengan melakukan penerimaan emosi anak, orang tua memberi ruang bagi anak untuk merasa aman dan dipahami tanpa takut dihakimi. Hal ini membantu anak membangun keterampilan pemahaman diri yang penting sepanjang hidup.
Contoh sederhana dari pendekatan ini adalah ketika anak merasa sedih karena kalah dalam permainan: daripada langsung berkata “Sudahlah, menang kalah itu biasa”, orang tua bisa mengatakan sesuatu seperti, “Aku melihat kamu sangat kecewa karena kalah. Itu memang tidak menyenangkan.” Kalimat seperti ini bukan hanya menunjukkan empati emosional, tetapi juga membantu anak belajar bahwa perasaan sedih itu valid dan bisa diungkapkan.
Dengan membantu anak mengenali dan menamai emosi mereka seperti kecewa, marah, atau frustrasi, orang tua menguatkan pondasi kecerdasan emosional anak. Perasaan yang diterima dan difahami justru memberi anak kemampuan untuk mengatur emosi tersebut dengan lebih baik, sehingga mereka merasa lebih aman dan yakin pada diri sendiri.