Tanamkan Konsekuensi Pada Anak, Bukan Mengancam
- https://www.marriage.com/advice/parenting/authoritarian-parenting-style/
Parenting, VIVA Mindset –Anak yang rewel dan sulit untuk diatur, kerap kali menguji kesabaran para orang tua. Hal tersebut wajar karena, ia tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
Nah, justru para orang tua harus mendisiplinkan anak-anak mereka.
Tapi, mendisiplinkan disini tidak berarti menghukum dengan fisik (memukul, dll) melainkan, tegas bukan tega. Berbicalah dengan tidak ragu-ragu, jelas, dan penuh kasih. Pastikan anak benar-benar mengerti.
Dan juga perlu mengajarkan konsekuensi pada anak, akan apa hasil yang dilakukan. Jangan hanya anak merenggek pada para orang tua akhirnya, luluh juga dan memenuhi apa yang diminta oleh si anak.
Memang dengan mengancam, anak jadi menurut seketika walau dia tidak mengerti apa yang telah terjadi sebenarnya. Biasanya, ancaman merupakan tanda mulai habisnya kesabaran. Dan, mengancam sering kali membuat anak takut sehingga, ia tidak melakukannya lagi.
Pasalnya mengancam jadi solusi tercepat yang orang tua bisa lakukan. Dengan ancaman maka, anak mematuhi perintah, tidak peduli anak mengerti atau tidak. Dengan begitu, anak jadi tidak paham akan akibat yang ia lakukan.
Lalu, Apa Sih Konsekuensi Pada Anak?
Konsekuensi adalah balasan yang terjadi bila melakukan sesuatu. Dikutip dari Prenagen, “bila mereka melakukan sesuatu, maka mereka akan mendapatkan balasan sesuai dengan hal yang mereka lakukan tersebut”.
Contohnya, alih-alih melarang anak menyisakan makanan, kasih tahu alasan kenapa, tidak boleh menyisakan makanan. Atau, bila anak tidak boleh keluar rumah saat hari sudah mulai malam, ada baiknya kasih tau kenapa tidak boleh main di luar rumah saat hari mulai malam.
Rasa tanggung jawab anak akan tumbuh dan dilansir dari Mamypoko, mengajarkan konsekuensi dapat mengajarkan anak berpikir secara kritis, menumbuhkan disiplin, melatih mengendalikan emosi dan dapat mengajarkan anak dalam menghadapi masalah.
Mengajarkan hal konsekuensi pada anak juga menjaga mental pada anak. Mulailah menjaga mental si anak untuk hal-hal senderhana sehingga, rasa tanggung jawab melalui konsekuensi-konsekuensi dapat menjadi bagian dalam hidupnya.