Berbagi Sejak Kecil, Apakah Anak Bisa Tumbuh Jadi People Pleaser?
- https://idn.freepik.com/foto-gratis/anak-anak-dengan-bidikan-penuh-bermain-di-dalam-ruangan_28638147.htm
Parenting, VIVA Mindset –Mengajarkan anak berbagi sejak kecil sering dianggap sebagai tanda keberhasilan orang tua dalam menanamkan nilai moral. Anak yang mau mengalah, tidak pelit, dan menuruti permintaan orang lain kerap dipuji sebagai anak baik.
Namun, di balik niat baik tersebut, ada risiko anak tumbuh menjadi people pleaser, karena selalu diminta untuk berbagi dan mengalah. Hal ini berkaitan langsung dengan perkembangan emosi dan cara anak membangun hubungan sosial di masa depan.
Mengapa Anak Diajarkan Berbagi Sejak Dini?
Dalam praktik parenting anak, berbagi dianggap sebagai bagian dari nilai sosial anak yang membantu membentuk empati dan kemampuan bersosialisasi. Anak belajar berbagi diharapkan lebih peka terhadap perasaan orang lain dan mampu bekerja sama dengan lingkungannya.
Dikutip dari Cleveland Clinic, berbagi merupakan keterampilan sosial yang penting, tetapi kemampuan ini berkembang secara bertahap sesuai usia dan kematangan emosi anak. Anak usia dini masih berada pada fase egosentris, sehingga wajar jika mereka belum selalu siap berbagi.
Ketika Berbagi Menjadi Paksaan
Masalah muncul saat anak belajar berbagi malah berubah menjadi kewajiban yang harus selalu dituruti. Anak diminta mengalah meski sedang tidak siap, bahkan ditegur ketika mempertahankan barang miliknya sendiri.
Dalam kondisi ini, anak dapat menyimpulkan bahwa keinginannya tidak sepenting kenyamanan orang lain. Jika pola ini terjadi berulang, anak bisa tumbuh dengan kebiasaan menekan perasaan sendiri demi diterima oleh lingkungan.
Hubungan dengan People Pleaser
People pleaser adalah kondisi ketika seseorang cenderung sulit mengatakan “tidak”, takut mengecewakan orang lain, dan lebih memprioritaskan kebutuhan orang lain dibanding dirinya sendiri. Pola ini bisa mulai terbentuk sejak kecil, terutama jika anak terbiasa dipaksa mengalah tanpa diberi ruang untuk menentukan pilihan.
Penelitian yang dimuat oleh Psychological Science menunjukkan bahwa anak yang diberi pilihan dalam berbagi cenderung melakukan perilaku prososial dengan lebih tulus. Hal ini menegaskan bahwa empati yang sehat tumbuh dari kesadaran, bukan dari tekanan.
Berbagi Tetap Penting, Tapi Perlu Batasan
Penting untuk dipahami bahwa berbagi bukanlah hal yang salah. Justru sebaliknya, berbagi membantu anak mengembangkan keterampilan sosial anak dan memahami dinamika hubungan dengan orang lain. Namun, proses anak belajar berbagi yang dipaksakan tanpa mempertimbangkan emosinya, dapat menghambat terbentuknya batasan anak yang sehat.