Anak Terlalu Aktif, Apakah ADHD? Orang Tua Wajib Tahu
- https://unsplash.com/photos/father-stressed-as-son-jumps-on-couch-LQMnyK9fXdA
Parenting, VIVA Mindset – Anak yang tampak sangat aktif, tidak bisa diam, dan sulit fokus kerap membuat orang tua kewalahan dan khawatir. Beberapa orang tua bahkan langsung mengaitkan perilaku tersebut dengan gejala ADHD.
Padahal, menurut para ahli, anak terlalu aktif belum tentu mengidap ADHD. Kondisi anak perlu dipahami secara menyeluruh terlebih dahulu. Kesalahan memahami kondisi anak dapat membuat orang tua salah mengambil langkah pengasuhan.
Ciri ADHD pada Anak yang Perlu Diperhatikan
Dilansir dari laman mayoclinic.org, ADHD atau Attention Deficit Hyperactivity Disorder adalah gangguan perkembangan saraf yang memiliki kriteria khusus dan tidak bisa ditentukan hanya dari satu atau dua perilaku.
Berbeda dengan anak aktif biasa, anak dengan ADHD menunjukkan pola perilaku yang konsisten dan berlangsung dalam jangka waktu lama. Salah satu ciri yang paling sering muncul adalah kesulitan memusatkan perhatian dalam berbagai situasi, baik di rumah maupun di sekolah. Anak dengan ADHD juga cenderung susah diam hampir sepanjang waktu, bahkan ketika situasi menuntut ketenangan atau saat anak sudah terlihat lelah.
Selain itu, perilaku impulsif seperti sulit menunggu giliran, sering menyela pembicaraan, dan bertindak tanpa mempertimbangkan risiko juga kerap terjadi.
Penyebab ADHD Menurut Ahli
Para ahli menyebutkan bahwa ADHD berkaitan dengan kombinasi faktor genetik dan perbedaan perkembangan sistem saraf otak. Faktor lingkungan juga berperan, terutama yang berkaitan dengan stimulasi berlebihan dan pola asuh. Meskipun demikian, ADHD bukan disebabkan oleh kesalahan orang tua semata. Diagnosis ADHD harus dilakukan oleh tenaga profesional melalui evaluasi menyeluruh, bukan berdasarkan pengamatan singkat semata.
Cara Mengatasi dan Mendampingi Anak dengan Dugaan ADHD
Dalam mendampingi anak dengan dugaan ADHD, orang tua diharapkan melakukan langkah dan pendekatan yang tepat. Orang tua disarankan menerapkan rutinitas harian yang konsisten agar anak merasa lebih terstruktur dan aman.
Menyalurkan energi anak melalui aktivitas fisik seperti bermain di luar rumah atau olahraga ringan juga membantu mengurangi perilaku berlebihan. Pembatasan screen time dan pola tidur yang cukup turut berperan dalam meningkatkan fokus anak.