Kenapa Kita Mudah Meledak ke Anak? Ubah Polanya Sekarang!
- https://www.freepik.com/free-photo/young-child-receiving-emotional-abuse-from-parent-home_39427870.htm
Parenting, VIVA Mindset – Setiap orang tua pasti pernah merasa seperti berputar di tempat saat berhadapan dengan anak yang tampaknya tidak mau dengar. Hubungan yang hangat tiba-tiba berubah menjadi pola frustrasi dan amarah yang melelahkan. Dalam artikel dari Janet Lansbury berjudul “Stuck in a Pattern of Frustration and Anger” dijelaskan bagaimana pola ini sering dijalani oleh banyak keluarga, dan bagaimana kita bisa memecahkannya dengan pendekatan yang lebih damai dan efektif.
Masalah sering bermula dari ekspektasi kita sebagai orang dewasa: kita berharap anak akan memahami aturan atau instruksi karena “seharusnya mereka tahu lebih baik.” Ketika anak tidak merespon seperti yang kita inginkan misalnya saat dia tidak mau pulang dari taman atau terus berhenti di lantai karena merasa Lelah. Rasa frustrasi itu memuncak dan berubah menjadi ledakan emosi dari orang tua. Frustrasi dan kemarahan bukan sekadar perilaku negatif; kadang ini adalah tanda bahwa anak sedang berusaha mengekspresikan kebutuhan emosionalnya yang belum bisa diucapkan dengan kata-kata.
Salah satu kunci keterampilan emosional anak adalah rasa aman untuk mengekspresikan perasaannya, bahkan saat itu berupa tangisan atau penolakan. Ketika orang tua terjebak dalam pola komunikasi yang penuh tekanan, anak justru bisa semakin tidak nyaman dan menjadi lebih sering menolak atau berperilaku menantang. Tidak heran jika perkembangan emosi anak terasa mandek saat orang tua hanya berusaha “menenangkan” dengan perintah atau ancaman yang pada akhirnya memperburuk rasa frustrasi kedua belah pihak.
Janet Lansbury menyarankan perubahan paradigma: bukannya menunggu sampai konflik meledak, orang tua bisa mengantisipasi situasi, berada dekat dengan anak secara fisik, dan menetapkan batasan yang tegas namun penuh kasih. Ketika kita mendekat dan dengan yakin membantu anak pulang saat waktunya, kita mengurangi kebutuhan anak untuk berjuang sendirian menghadapi perubahannya terutama saat anak baru saja memiliki adik atau sedang berada dalam fase transisi besar lainnya.
Terkadang, sikap tenang yang konsisten lebih efektif daripada sekadar kata-kata. Alih-alih terus mengulang perintah, orang tua dapat menunjukkan ketegasan dengan cara yang lembut saat batasan perlu ditegakkan. Pendekatan ini tidak hanya meredakan konflik perilaku, tetapi juga membantu anak memahami bahwa dunia tetap aman meski mereka sedang merasa frustrasi.