Anak Mudah Frustrasi? Ini Cara Empatik Membantunya Bangkit

Ketika mencoba hal baru, pahami frustrasi sebagai bagian belajar
Sumber :
  • https://www.freepik.com/free-photo/teenager-being-cyberbullied_94965429.htm

Parenting, VIVA Mindset – Anak kecil sering kali merasa frustrasi ketika mereka mencoba menguasai keterampilan baru seperti meniup gelembung, membuka kotak, atau menyusun balok. Menurut panduan dari Janet Lansbury dalam artikel dan podcastnya tentang cara membantu anak frustrasi di Parenting Science, reaksi emosional ini adalah bagian normal dari perkembangan, dan respons orang tua yang tepat justru membantu anak belajar mengelola perasaan itu dengan sehat.

img_title Penerapan Pengasuhan Positif dalam Membentuk Karakter dan Perkembangan Otak Anak Usia Dini

Pahami Frustrasi sebagai Bagian Belajar

Frustrasi terjadi ketika anak menemui hambatan dalam melakukan sesuatu yang mereka inginkan. Lansbury menekankan bahwa daripada mencoba “menghilangkan” perasaan itu, orang tua dapat membantu anak dengan mengizinkan mereka merasakan emosinya tanpa mencoba mempercepat atau memperbaikinya. Ini membantu anak memahami bahwa merasa kesal atau marah itu wajar dan bukan sesuatu yang harus ditolak atau disembunyikan.

img_title Mengubah Pola Pengasuhan Anak Remaja: Menjadi Mentor dan Membangun Kemandirian Masa Depan

Daripada mengoreksi perasaan anak dengan kalimat seperti “kamu harus fokus” atau “jangan frustrasi”, cara yang lebih efektif adalah mengakui pengalaman mereka. Misalnya, mengatakan “Ini memang sulit” membantu anak merasakan bahwa emosinya terlihat dan didengar. Cara ini mendukung pengembangan regulasi emosi anak kemampuan penting yang akan mereka gunakan sepanjang hidup.

Jangan Perbaiki, Tawarkan Dukungan

img_title Benarkah Bayi Lahir Caesar Lebih Mudah Sakit? Ini Penjelasan Medisnya

Lansbury mengingatkan bahwa sering kali orang tua atau pengasuh ingin segera memperbaiki situasi dengan memberi instruksi atau menyelesaikan tugas untuk anak. Namun, hal ini bisa mengirim pesan bahwa perasaan anak harus diabaikan atau dikendalikan segera. Dia menyarankan pendekatan yang lebih bersahabat: tetap dekat, tenang, dan siap mendukung, tetapi biarkan anak berusaha sendiri selama mereka benar-benar ingin melakukannya. Ini membantu melatih ketekunan anak dan rasa percaya diri mereka dalam menghadapi tantangan.

Misalnya, jika anak mulai melempar mainan karena frustrasi, daripada langsung menegur dengan kalimat panjang, orang tua bisa mengambil alih situasi dengan cara yang aman seperti memindahkan mainan dari jangkauan yang rawan dilempar sambil tetap mengakui apa yang dirasakan anak. Kalimat sederhana seperti “Ini memang membuatmu kesal, ya,” menunjukkan bahwa perasaan dihormati tanpa memperkuat perilaku itu.

Halaman Selanjutnya
img_title