Anak Sensitif Berlebihan? Bisa Jadi Ini Sensory Issues yang Perlu Dipahami

Kegiatan sensorik dalam rutinitas harian anak
Sumber :
  • https://www.freepik.com/free-photo/happy-little-girl-splashes-water-city-fountain_17326020.htm

Parenting, VIVA MindsetPernah melihat anak tiba-tiba menutup telinga karena suara ramai, menolak baju tertentu, atau tantrum tanpa sebab yang jelas? Banyak orang tua menganggap perilaku anak hanya sekadar manja atau ingin diperhatikan. Padahal, bisa jadi anak sedang menghadapi sensory issues yaitu tantangan dalam memproses rangsangan dari lingkungan sekitarnya.

img_title Vitalnya Nutrisi 1.000 Hari Pertama Kehidupan: Fondasi Emas Pencegah Stunting

Menurut Lemon Lime Adventures, sensory processing adalah cara otak menerima dan mengolah informasi dari pancaindra: suara, sentuhan, cahaya, bau, gerakan, hingga tekanan. Ketika proses ini tidak berjalan seimbang, anak bisa merasa kewalahan, tidak nyaman, bahkan panik. Reaksi mereka bukan drama, itu adalah bentuk komunikasi.

Melihat Perilaku Anak dengan “Kacamata Sensorik”

img_title Menavigasi Batasan Screen Time di Era Digital: Risiko Speech Delay dan Pentingnya Digital Detox

Alih-alih fokus pada perilaku yang tampak, orang tua disarankan melihat apa yang memicunya. Apakah anak sensitif terhadap suara keras? Tidak nyaman dengan tekstur makanan? Atau sulit beradaptasi dengan perubahan rutinitas? Dengan memahami pemicu sensorik, respons orang tua menjadi lebih tepat dan penuh empati.

Tetap Tenang, Karena Emosi Menular

img_title Mengatasi Tantrum Anak Usia Dini dengan Metode Emotion Coaching

Saat anak kewalahan, hal terbaik yang bisa dilakukan orang tua adalah tetap tenang. Reaksi keras hanya akan memperbesar rasa tidak aman. Nada suara yang lembut dan bahasa tubuh yang menenangkan membantu sistem saraf anak kembali stabil. Ingat, ketenangan kita adalah jangkar mereka.

Beri Pilihan, Bukan Paksaan

Anak dengan sensory issues sangat terbantu ketika diberi pilihan. Misalnya, memilih baju dengan bahan yang nyaman, atau menentukan waktu istirahat sensorik. Pilihan kecil memberi anak rasa control, dan rasa aman itu menenangkan.

Bangun Rutinitas yang Konsisten

Rutinitas yang dapat diprediksi membantu anak merasa aman di dunia yang terasa terlalu ramai. Jadwal yang konsisten, transisi yang diberi peringatan, dan kebiasaan harian yang teratur dapat mengurangi stres sensorik secara signifikan.

Jadikan Aktivitas Sensorik Bagian dari Hari

Gerak tubuh, bermain air, aktivitas menekan (seperti memeluk bantal), hingga waktu tenang tanpa distraksi dapat membantu menyeimbangkan kebutuhan sensorik anak. Aktivitas ini bukan terapi mahal, sering kali justru sederhana dan alami.

Pada akhirnya, sensory challenges bukan hambatan, tapi sinyal. Dengan pendekatan yang penuh empati, anak belajar merasa aman dengan tubuh dan emosinya sendiri. Dan dari rasa aman itu, tumbuh kepercayaan diri—pelan, tapi pasti.