Mengenal Emotional Eating pada Remaja dan Cara Mengatasinya
- https://unsplash.com/photos/a-young-woman-sits-on-a-couch-eating-chips-hDChXlyWNco
Parenting, VIVA Mindset –Remaja juga menghadapi berbagai tekanan setiap hari, terutama di lingkungan sekolah. Beban tugas yang tinggi, persiapan ujian, dinamika hubungan dengan teman sebaya, hingga citra tubuh yang negatif dapat memicu stres yang cukup besar. Kondisi emosional yang tidak stabil membuat remaja mencari cara cepat untuk meredakan perasaan mereka. Salah satu mekanisme yang sering muncul adalah emotional eating.
Emotional eating, atau bisa disebut juga stress eating, terjadi ketika seseorang makan bukan karena lapar fisik, melainkan karena dorongan emosi. Pada remaja, makan karena emosi sering muncul saat mereka merasa sedih, kesepian, bosan, stres, atau tertekan. Anak yang mengalami emotional eating cenderung merasa ingin makan secara mendadak dan banyak, terutama makanan manis, makanan asin, atau makanan berlemak.
Dalam jangka panjang, remaja yang sering melakukan emotional eating berpotensi mengalami perubahan pola makan yang tidak teratur dan mengonsumsi kalori berlebih, sehingga terjadi peningkatan berat badan serta perubahan status gizi. Emotional eating yang berlangsung terus-menerus dapat mengganggu kesehatan fisik dan emosional anak. Karena itu, peran orang tua sangat penting dalam mengenali emotional eating pada anak sekaligus membantu mereka membangun kebiasaan yang lebih sehat.
6 Cara Orang Tua Mengatasi Emotional Eating pada Anak
Orang tua perlu mengambil langkah yang tepat untuk membantu anak mengelola kebiasaan emotional eating mereka. Berikut beberapa kiat yang dapat orang tua terapkan dalam mengatasi emotional eating pada anak.
- Menjadi Teladan yang Baik
Orang tua memegang peran besar dalam membentuk kebiasaan makan anak. Dengan menunjukkan pola makan yang teratur, memilih makanan sehat, dan mengelola emosi dengan positif, anak akan meniru perilaku tersebut. Keteladanan dari orang tua memberikan fondasi kuat bagi anak untuk memahami bahwa makanan bukan pelarian dari stres.
- Menemukan Pemicu Anak Stres
Setiap anak memiliki pemicu emosi yang berbeda. Orang tua dapat mengamati kapan anak lebih sering melakukan stress eating, entah saat persiapan ujian, konflik pertemanan, atau kelelahan setelah kegiatan sekolah. Memahami pemicu stres pada anak dapat membantu orang tua menemukan pendekatan yang tepat untuk memberikan dukungan kepada mereka.