Hindari Kalimat Ini saat Menghadapi Anak Dewasa yang Berjuang dengan Kecanduan
- https://unsplash.com/id/foto/seorang-pria-dengan-mulut-terbuka-dan-rambutnya-bertiup-angin-x7bf3KcMRnk
Parenting, VIVA Mindset –Menghadapi anak yang sudah dewasa tetapi terjebak dalam kecanduan sering membuat orang tua berada dalam posisi paling melelahkan secara emosional. Ada rasa takut kehilangan, rasa bersalah, hingga frustrasi karena usaha yang terasa tak pernah cukup. Dalam situasi seperti ini, banyak orang tua tanpa sadar mengucapkan kalimat yang justru memperburuk keadaan.
Dilansir dari laman Psychology Today ada kalimat yang harus benar-benar dihindari, dan pentingnya berkomunikasi yang lebih sehat dan efektif dengan anak yang memiliki kecanduan.
Kalimat yang Harus Dihindari
Kalimat “Kenapa kamu tidak berhenti saja?” terlihat seperti pertanyaan wajar yang muncul dari keputusasaan dan kepedihan orang tua. Namun bagi anak yang sedang berjuang melawan kecanduan, kalimat itu terasa seperti tuduhan dan penilaian.
Kecanduan bukan soal lemahnya tekad. Kecanduan mengubah cara otak membuat keputusan. Jadi ketika orang tua mempertanyakan “kenapa tidak berhenti?”, yang terdengar bagi si anak adalah “Berarti aku gagal. Aku lemah. Aku menyusahkan.”
Rasa malu ini dapat memperparah kecanduan dan membuat anak semakin menjauh dari proses pemulihan.
Apa yang Perlu Orang Tua Pahami
Banyak orang tua mengucapkan kalimat itu karena ingin membantu. Mereka ingin anak kembali sehat dan stabil. Namun niat baik bisa berubah menjadi tekanan ketika tidak dibalut empati.
Psikolog Jeffrey Bernstein menjelaskan bahwa anak yang kecanduan sudah membawa beban rasa bersalah yang sangat besar. Respons yang menghakimi hanya akan memperdalam luka itu.
Orang tua perlu memahami bahwa kecanduan bukan pilihan, melainkan kondisi kompleks yang membutuhkan pemulihan jangka panjang.
Cara Berbicara yang Lebih Membantu
Alih-alih bertanya “kenapa tidak berhenti?”, Bernstein menyarankan orang tua menggunakan komunikasi yang menunjukkan dukungan tanpa membenarkan perilaku merusak.
Kalimat seperti “Saya tahu ini sulit. Saya percaya kamu bisa pulih. Saya ada untuk mendukung pemulihanmu.” Jauh lebih menenangkan dan membuka ruang dialog.
Penting juga untuk tegas pada batasan
“Saya mencintaimu dan mau membantu mencari pertolongan, tetapi saya tidak bisa mendukung perilaku yang membahayakanmu atau orang lain.” Dengan cara ini, cinta tetap hadir tetapi tidak menguatkan pola kecanduan.