Bukan Sekadar Bermain! Anak Butuh Tiga Jam Bergerak Setiap Hari, Ini Alasannya

Ilustrasi Anak-anak sedang bermain di luar rumah.
Sumber :
  • https://www.pexels.com/photo/kids-sitting-on-green-grass-field-1094072/

Parenting, VIVA Mindset – Di era serba digital seperti sekarang, banyak anak lebih akrab dengan layar gawai daripada halaman bermain. Namun, di balik kenyamanan teknologi, ada hal penting yang kerap terlupakan: kebutuhan anak untuk bergerak dan mendapatkan stimulasi aktif setiap hari.

img_title Perundungan digital anak

Psikolog Anak dan Remaja Anastasia Satriyo, M.Psi., Psikolog, menegaskan bahwa aktivitas fisik dan stimulasi yang tepat merupakan kunci penting dalam mengoptimalkan tumbuh kembang anak.

img_title Seni Mendengarkan Tanpa Menghakimi Agar Remaja Terbuka

“Anak butuh waktu bergerak minimal tiga jam setiap hari untuk mengeksplorasi fungsi sistem indra dan meningkatkan kemampuan mereka,” ujar Anastasia dalam diskusi kesehatan di Jakarta, Jumat, 10 Oktober 2025. Dikutip dari antaranews.com

Menurut Anastasia, ketika anak bergerak, sebenarnya mereka sedang belajar banyak hal: mengenal tubuhnya, memahami lingkungan, melatih keseimbangan, serta membangun komunikasi dengan orang lain.

img_title Memahami Emosi Remaja Lewat Neurosains

“Stimulasi sesuai usia membantu anak memahami pembicaraan, mengekspresikan perasaan, dan belajar mandiri,” tambahnya.

Menariknya, stimulasi ini tidak selalu harus dalam bentuk kegiatan yang rumit. Bermain petak umpet, menari bersama, atau sekadar berjalan-jalan sore sudah cukup membantu anak mengasah kemampuan motorik dan emosionalnya.

Sering kali, orang tua mengukur perkembangan anak dari hal-hal yang tampak seperti kemampuan menyanyi, menulis, atau menggambar. Padahal, kata Anastasia, inti stimulasi adalah membentuk kemampuan berpikir, berkomunikasi, dan beradaptasi.

“Keberhasilan stimulasi bukan hanya dari kemampuan anak memegang benda atau hafal lagu anak-anak,” jelas psikolog lulusan Universitas Indonesia itu. “Yang lebih penting adalah anak bisa memahami orang lain dan mengekspresikan dirinya.”

Masih banyak orang tua yang beranggapan bahwa anak laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan besar dalam tumbuh kembang. Namun Anastasia menegaskan, setiap anak memiliki kebutuhan yang sama untuk bergerak dan bereksplorasi.

“Jangan membedakan karena laki-laki atau perempuan. Gender itu konstruksi sosial. Semua anak butuh kesempatan yang sama untuk berkembang,” tegasnya.

Anastasia juga mengingatkan orang tua untuk selalu memantau tumbuh kembang anak secara berkala. Bila muncul tanda-tanda keterlambatan berbicara, kesulitan motorik, atau masalah perilaku, segera konsultasikan dengan dokter atau psikolog anak.

Halaman Selanjutnya
img_title