3 Hal Ini Jangan Dilakukan Saat Anak Tantrum

Daripada memarahi, lebih baik ajak anak mengungkapkan perasaannya
Sumber :
  • https://pixabay.com/id/photos/pedesaan-anak-anak-penyimpanan-7629017/

Parenting, VIVA Mindset – Anak tantrum itu bisa bikin frustrasi, ya. Tapi tahu gak sih, ternyata ada beberapa respons orang tua yang tanpa sadar justru bisa membuat tantrum anak makin parah? Dilansir dari @duniaparentingdotid, info berikut dapat membuatmu lebih tenang menghadapinya.

img_title Penerapan Pengasuhan Positif dalam Membentuk Karakter dan Perkembangan Otak Anak Usia Dini

1.      ​Jangan Berteriak dan Membentak Anak

Saat anak tantrum, amigdala—bagian otak yang mengendalikan emosi—sedang aktif-aktifnya. Berteriak atau membentak justru akan menstimulasi amigdala anak. Saat anak tantrum, otaknya seperti terbajak hingga membuat dia ingin terus melawan orang tua atau kabur ketika dimarahi (bisa juga mencari pelindung). Membuatnya makin sulit berpikir rasional dan tenang.

img_title Mengubah Pola Pengasuhan Anak Remaja: Menjadi Mentor dan Membangun Kemandirian Masa Depan

Contoh: Saat anakmu menangis karena tidak diberi mainan baru, coba hindari respons seperti, "Kamu tuh kenapa sih nangis terus?! Malu-maluin!"

Solusinya: Coba ajak anak bicara dengan nada tenang dan rileks. Tanyakan, "Adik kenapa marah-marah? Coba kasih tahu Ayah/Bunda." Ini bisa membantu anak merasa dimengerti dan perlahan menenangkan diri.

img_title Benarkah Bayi Lahir Caesar Lebih Mudah Sakit? Ini Penjelasan Medisnya

2.      ​Jangan Memiliki Postur Tubuh yang Menakutkan

Gestur marah seperti melotot, berkacak pinggang, atau berdiri tegak di depan anak bisa membuat anak merasa terancam. Ini juga menstimulasi amigdala anak sehingga ia cenderung "melawan" atau "kabur."

Contoh: Saat anak melempar mainan, jangan langsung berdiri dengan tangan di pinggang dan mata melotot sambil bilang, "Kamu nakal, ya!"

Solusinya: Cobalah berjongkok atau membungkuk hingga tubuhmu sejajar dengan anak. Dengan begitu, kamu terlihat lebih ramah dan tidak mengintimidasi. Sambil berjongkok, katakan, "Kakak marah karena mainannya diambil, ya? Coba ceritakan ke Bunda."

3.      ​Jangan Mengejek atau Menakut-nakuti Anak

Ucapan seperti "Dasar cengeng!" atau ancaman "Awas ya kalau nangis lagi, Ayah tinggal!" bisa membuat anak merasa tidak dihargai dan takut. Ini juga membuat otak anak "terbajak" dan memicu respons emosional, bukan rasional.

Contoh: Saat anak menangis karena terjatuh, jangan bilang, "Ah, gitu aja nangis! Dasar lemah!" atau "Sana, Bunda gak mau dekat-dekat lagi sama kamu!"

Solusinya: Tetaplah di dekat anak dan berikan batasan dengan lembut namun tegas. Misalnya, "Kakak mau Bunda peluk biar lebih tenang? Boleh, tapi setelah itu HP-nya harus dikembalikan, ya, kan sudah 1 jam." Ini menunjukkan kamu peduli, tetapi juga tetap memegang kendali.

Halaman Selanjutnya
img_title