Dunia Paralel dalam Everything Everywhere All at Once, Apa Sebenarnya yang Terjadi?

Evelyn dalam perjalanan menghadapi multiverse.
Sumber :
  • https://www.radiotimes.com/movies/everything-everywhere-all-at-once-ending-explained/

Film, VIVA Mindset –Film Everything Everywhere All at Once menghadirkan konsep dunia paralel dengan cara yang jauh berbeda dari film multiverse pada umumnya. Cerita tidak hanya membawa penonton berpindah dari satu realitas ke realitas lain, tetapi juga menghubungkan setiap kemungkinan hidup dengan konflik keluarga Evelyn Wang.

img_title Lili Reinhart dan Tom Bateman Jadi Dewa Yunani di Olympus U Berkat Chemistry di The Love Hypothesis

Dilansir dari a24films.com, film karya Daniel Kwan dan Daniel Scheinert ini mengikuti Evelyn, seorang perempuan keturunan Tionghoa-Amerika yang sedang menghadapi masalah keluarga dan urusan pajak ketika dirinya tiba-tiba terseret ke dalam konflik multiverse.

 

img_title The Love Hypothesis Punya Sekuel, The Two Body Problem Terbit Februari 2027 dan Diadaptasi Menjadi Film

Bagaimana Dunia Paralel dalam Film Ini Bekerja?

Dalam Everything Everywhere All at Once, setiap keputusan dapat menghasilkan realitas berbeda. Artinya, terdapat berbagai versi Evelyn yang menjalani kehidupan berbeda berdasarkan pilihan yang pernah mereka ambil.

img_title The Love Hypothesis Dinilai Fans Sangat Representasikan Novelnya, Meski Ada Beberapa Kekurangan

Menurut thedigitalfix.com, konsep tersebut menjadi dasar dari kemampuan verse-jumping, yaitu teknologi yang memungkinkan seseorang mengakses versi dirinya di realitas lain dan mengambil kemampuan maupun pengalaman dari versi tersebut.

Itulah sebabnya Evelyn dapat menemukan dirinya sebagai bintang film, koki, ahli bela diri, hingga menjalani kehidupan dengan kondisi yang sangat berbeda dari realitas utamanya.

 

Mengapa Evelyn Bisa Mengakses Banyak Realitas?

Evelyn bukan dipilih karena menjadi versi paling hebat dari dirinya. Justru sebaliknya, ia dianggap sebagai salah satu versi yang paling tidak berhasil. Kehidupannya dipenuhi masalah keluarga, bisnis yang berantakan, dan tekanan dari berbagai sisi.

Dilansir dari radiotimes.com, kondisi tersebut membuat Evelyn memiliki banyak kemungkinan kehidupan alternatif yang dapat diakses melalui verse-jumping. Semakin ekstrem perbedaan antarrealitas, semakin besar pula potensi kemampuan yang dapat diperoleh Evelyn.

Konsep ini kemudian menjadi cara film menunjukkan bagaimana seseorang bisa terus memikirkan pertanyaan, “Bagaimana jika saya memilih jalan yang berbeda?”

 

Siapa Sebenarnya Jobu Tupaki?

Salah satu bagian paling penting dalam cerita adalah kemunculan Jobu Tupaki. Sosok ini ternyata merupakan versi alternatif dari Joy, anak Evelyn, dari Alphaverse.

Menurut latimes.com, Jobu menjadi sosok yang mampu melihat berbagai kemungkinan realitas sekaligus setelah mengalami eksperimen verse-jumping secara berlebihan. Pengalaman tersebut membuatnya kehilangan batas antara berbagai versi kehidupan dan akhirnya memandang keberadaan manusia sebagai sesuatu yang tidak memiliki makna.

Dari sinilah konflik utama film berkembang. Jobu tidak sekadar ingin menghancurkan satu dunia, tetapi ingin mengakhiri semuanya melalui sebuah objek berbentuk bagel yang kemudian dikenal sebagai Everything Bagel.

 

Apa Makna Everything Bagel?

Everything Bagel menjadi simbol dari pandangan nihilistik Jobu Tupaki. Semua hal yang ada di dunia dimasukkan ke dalam satu bagel hingga tidak ada lagi yang terasa memiliki arti.

Dikutip dari fastcompany.com, para pembuat film memang menggunakan multiverse untuk mempertanyakan apakah sesuatu masih memiliki makna ketika semua kemungkinan kehidupan dapat terjadi sekaligus. Konsep tersebut menjadi salah satu persoalan filosofis utama yang ingin dieksplorasi dalam film.

Namun, film kemudian memberikan jawaban yang berlawanan. Jika semua kemungkinan memang ada, bukan berarti kehidupan menjadi tidak berarti. Justru hubungan kecil yang dimiliki seseorang dapat menjadi semakin berharga.

 

Mengapa Multiverse Justru Berkaitan dengan Keluarga?

Di balik aksi dan konsep fiksi ilmiahnya, konflik terbesar sebenarnya terjadi antara Evelyn dan Joy. Keduanya sudah mengalami jarak emosional bahkan sebelum konsep dunia paralel muncul.

Menurut latimes.com, Daniel Kwan menjelaskan bahwa multiverse menjadi cara untuk menggambarkan berbagai kemungkinan hidup sekaligus pengalaman keluarga imigran yang sering dihantui pertanyaan tentang pilihan masa lalu.

Karena itu, berbagai versi Evelyn sebenarnya menggambarkan kehidupan yang mungkin saja ia jalani. Film menggunakan dunia paralel untuk memperlihatkan bahwa kehidupan yang terlihat sempurna belum tentu lebih bermakna daripada kehidupan yang sedang dijalani.

 

Pada Akhirnya, Evelyn Memilih Realitasnya Sendiri

Setelah melihat begitu banyak kemungkinan kehidupan, Evelyn akhirnya menyadari bahwa ia tidak perlu mencari realitas yang paling sempurna. Ia memilih tetap bersama keluarganya dan menghadapi masalah di dunia yang sedang ia jalani.

Dilansir dari radiotimes.com, perubahan Evelyn juga terlihat ketika ia berhenti menghadapi masalah hanya dengan kekerasan dan mulai menggunakan empati untuk memahami orang-orang di sekitarnya.

Jadi, dunia paralel dalam Everything Everywhere All at Once bukan sekadar cara untuk membuat cerita semakin gila dan penuh kejutan. Multiverse digunakan untuk membicarakan pilihan, penyesalan, keluarga, dan pertanyaan tentang makna hidup. Pada akhirnya, film ini justru mengatakan bahwa ketika ada begitu banyak kemungkinan kehidupan, memilih untuk menghargai kehidupan yang sedang dijalani adalah sebuah keputusan yang berarti.