Pahami Kenapa Anak Tantrum Di Kendaraan Umum, Begini Cara Mengatasinya
- https://www.beautyjournal.id/article/alasan-anak-menangis-saat-naik-pesawat
Parenting, VIVA Mindset – Suasana kabin pesawar yang sempit atau perjalanan panjang di kereta kerap menjadi ujian tersendiri bagi orang tua. Tangisan anak yang tiba tiba pecah di tengah perjalanan bukan hanya membuat panik, tetapi dapat memicu rasa tidak nyaman bagi penumpang lain. Di titik inilah, memahami tantrum bukan lagi sekedar soal pengasuhan, melainkan juga soal kesiapan menghadapi situasi publik.
Tantrum pada anak sejatinya adalah ledakan emosi yang belum mampu mereka kendalikan. Anak anak terutama pada usia balita, belum memiliki kemampuan bahasa dan regulasi emosi yang matang. Ketika merasa tidak nyaman, lelah atau frustasi satu satunya cara yang mereka miliki adalah meningis, berteriak atau meronta.
Dalam konteks perjalanan, kondisi ini menjadi lebih kompleks ketika terjadi di lingkungan baru, suara bising, tekanan kabin pesawat hingga perubahan rutinitas dapat memicu ketidaknyamanan anak. Anak yang biasanya tenang di rumah bisa berubah menjadi rewel ketika harus duduk lama tanpa banyak gerak.
Rasa lelah menjadi salah satu pemicu utama. Perjalanan jauh membuat anak kehilangan ritme tidur yang biasanya teratur. Ketika tubuh lelah, kemampuan anak untuk mengontrol emosi cenderung menurun, hal serupa terjadi ketika anak merasa lapar atau haus kondisi ini sering luput dari perhatian dari orang tua ketika sedang bepergian.
Selain itu, faktor kebosanan juga tidak bisa diabaikan. Anak anak memiliki rentang perhatian yang pendek. Duduk berjam jam tanpa aktivitas yang menarik dapat membuat mereka frustasi. Dalam situasi seperti ini, tantrum akan menjadi bentuk protes sekaligus mencari perhatian.
Disisi lain, perjalanan dengan kendaraan umum juga menghadirkan stimulasi berlebih. Suara mesin, keramaian penumpang hingga perubahan tekanan udara di pesawat dapat membuat anak merasa tidak nyaman secara fisik. Ketidaknyamanan ini sering kali tidak bisa mereka ungkapkan lewat kata kata, sehingga muncul dalam bentuk tangisan atau amarah.
Memahami penyebab ini menjadi langkah awal untuk mencegah tantrum. Sebab, pada dasarnya tantrum bukanlah perilaku “nakal”, melainkan bentuk komunikasi yang belum sempurna.