Tanpa Disadari, Overthinking Bisa Mengganggu Kesehatan Mental Remaja

Tekanan yang dialami oleh remaja
Sumber :
  • https://www.pexels.com/search/teen%20overthingking/

Parenting, VIVA Mindset –Banyak orang tua mungkin pernah melihat anaknya terlihat diam lebih lama dari biasanya. Tidak banyak bicara, tapi juga tidak benar-benar tenang. Sekilas mungkin terlihat biasa saja. Namun, di balik itu, bisa jadi ada pikiran yang tidak berhenti bekerja.

img_title Orang Tua Wajib Tahu, Ini Cara Tepat Mengawasi PR Anak

Remaja hari ini hidup di tengah banyak tekanan. Mulai dari sekolah, pertemanan, hingga tuntutan untuk terlihat “baik-baik saja”. Semua itu perlahan membentuk kebiasaan berpikir yang terus berulang, bahkan pada hal-hal yang sebenarnya belum tentu terjadi. Inilah yang sering disebut sebagai overthinking.

Dilansir dari jurnal kesehatan masyarakat, overthinking bukan sekadar berpikir dalam, melainkan kondisi ketika seseorang terus-menerus memutar kekhawatiran tanpa arah yang jelas. Yang menarik, fenomena ini ternyata bukan hal yang jarang terjadi. Dalam penelitian tersebut, sebagian besar remaja mengaku sering merasa cemas karena terlalu banyak memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi.

img_title Homeschooling atau Sekolah Formal? Ini Pertimbangannya

Sering kali, kondisi ini tidak terlihat secara langsung.

Anak tetap menjalani aktivitas seperti biasa, pergi ke sekolah, bercanda dengan teman, bahkan terlihat baik-baik saja. Namun di dalam pikirannya, ada banyak hal yang sedang dipikirkan secara berlebihan.

img_title Ayah Hadir, Anak Lebih Siap Menghadapi Masa Depan

Hal-hal kecil bisa terasa besar. Keputusan sederhana bisa terasa membingungkan. Bahkan, sesuatu yang belum terjadi bisa terasa menakutkan.

Jika dibiarkan, kondisi ini bisa membuat anak:

  1. sulit fokus
  2. mudah lelah
  3. kehilangan semangat
  4. hingga mengalami gangguan tidur

Dan yang lebih penting, mereka sering tidak tahu bagaimana cara menghentikannya.

Salah satu hal yang sering terjadi adalah anak memilih untuk menyimpan semuanya sendiri. Bukan karena tidak mau bercerita, tetapi karena tidak tahu harus mulai dari mana. Atau merasa tidak akan dipahami.

Padahal, penelitian menunjukkan bahwa banyak remaja mengalami kecemasan akibat pikiran berlebihan yang terus berulang dalam kesehariannya.  Di sinilah peran orang tua menjadi sangat penting. Bukan untuk langsung memberi solusi, tetapi untuk menjadi tempat yang aman bagi anak. Karena terkadang, yang dibutuhkan anak bukan jawaban, tetapi didengarkan.