Stop Permalukan Anak! Simak Cara Menegur Anak Tanpa Membuatnya Kecil Hati
- https://www.pexels.com/photo/mother-and-daughter-arguing-6957154/
Parenting, VIVA Mindset –Menegur anak adalah bagian penting dalam pola asuh orang tua. Namun, cara yang salah seperti mempermalukan justru bisa berdampak buruk pada perkembangan emosional mereka. Anak yang dipermalukan cenderung merasa kecil, tidak percaya diri, dan sulit memahami kesalahannya dengan sehat.
Alih alih belajar, anak justru bisa memilih diam atau menyembunyikan kesalahan karena takut dimarahi. Inilah mengapa cara menegur anak perlu dilakukan dengan pendekatan yang tepat agar tidak melukai perasaan anak.
Dalam pendekatan parenting positif, menegur bukan tentang menyalahkan, tetapi membimbing anak agar memahami perilakunya. Anak yang merasa aman secara emosional akan lebih terbuka untuk belajar dan berubah.
Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan orang tua.
Fokus pada solusi, bukan kesalahan
Kesalahan adalah bagian dari proses belajar, tetapi respons orang tua sangat menentukan dampaknya pada anak.
Hindari kalimat menyakiti anak seperti
“Kamu selalu bikin masalah” atau “Kenapa sih kamu ceroboh banget?”
Sebagai gantinya, gunakan kalimat yang fokus pada solusi, seperti
“Tidak apa apa, kita bersihkan sama sama ya”
atau
“Yuk, kita cari cara supaya ini tidak terjadi lagi”
Kalimat seperti ini membuat anak merasa aman, sekaligus belajar bertanggung jawab tanpa merasa disalahkan.
Tegas tanpa kehilangan empati
Bersikap tegas tidak harus dilakukan dengan cara keras. Cara berbicara sangat memengaruhi komunikasi dengan anak.
Hindari mengatakan
“Sudah, jangan rewel” atau “Kamu bikin Ibu capek”
Sebaliknya, coba katakan
“Ibu tahu kamu masih ingin bermain, tapi sekarang waktunya pulang ya”
atau
“Kamu pasti kesal, tapi kita tetap harus mengikuti aturan”
Pendekatan ini membantu anak merasa dipahami tanpa menghilangkan batasan.
Pahami kebutuhan di balik perilaku anak
Perilaku anak sering kali merupakan bentuk dari emosi yang belum tersampaikan. Orang tua perlu melihat lebih dalam, bukan hanya permukaannya.
Misalnya, saat anak berbicara dengan nada tinggi, hindari langsung berkata
“Jangan bicara seperti itu”
Sebaliknya, gunakan pendekatan yang lebih sesuai dengan psikologi anak, seperti
“Sepertinya kamu sedang marah, coba ceritakan pelan pelan ya”