Ilmuwan: Hasrat Bukan Kelemahan, tapi Cara Otak dan Relasi Bekerja

Kelola hasrat dengan bijak untuk hidup sehat dan seimbang.
Sumber :
  • https://pixabay.com/photos/fork-woman-eating-close-up-food-207410/

Kesehatan, VIVA Mindset – Rasa ingin yang sulit ditahan, seperti keinginan makan berlebihan, minum alkohol, terus bekerja, atau mengecek media sosial, sering dianggap sebagai tanda lemahnya kontrol diri. Padahal, penelitian terbaru menunjukkan bahwa hasrat tersebut tidak berkaitan dengan moral atau karakter seseorang, melainkan merupakan hasil kerja otak yang dipengaruhi oleh pengalaman dan hubungan sosial.

img_title Keseimbangan Hormon Remaja Ditinjau dari Pola Olahraga Malam

Dalam tulisannya, William A. Haseltine, Ph.D., seorang profesor di Harvard Medical School dan Harvard School of Public Health menjelaskan bahwa hasrat muncul dari proses biologis di otak yang kemudian diperkuat oleh lingkungan sekitar.

Artinya, keinginan tidak berdiri sendiri, tetapi dipengaruhi oleh perasaan diterima, dicintai, tertekan, atau justru terasing.

img_title Lansia Usia 60 Tahun ke Atas Perlu Tetap Aktif, Ini Aktivitas Fisik yang Aman

Kondisi otak yang sama dapat memunculkan dorongan yang berbeda pada tiap orang. Saat seseorang merasa aman dan didukung, keinginan cenderung lebih mudah dikendalikan. Sebaliknya, rasa kesepian, penolakan, atau stres emosional dapat membuat hasrat menjadi jauh lebih kuat,” tulisnya di PsychologyToday.com, Selasa, 3 Januari.

Ia menegaskan bahwa keinginan yang berlebihan jarang hanya tentang zat atau perilaku tertentu. Dalam banyak kasus, hasrat menjadi cara seseorang mengatasi rasa sepi, malu, atau emosi tidak nyaman lainnya.

img_title Waspada! Ini Tanda Ginjal Bermasalah yang Sering Diabaikan

Karena itu, kecanduan kini dipahami bukan hanya sebagai gangguan pada sistem penghargaan otak, tetapi juga berkaitan dengan hubungan yang tidak aman dan kemampuan menenangkan diri yang belum terbentuk dengan baik.

Pendekatan yang penuh empati terhadap diri sendiri dinilai lebih efektif dibandingkan menyalahkan diri. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kritik diri yang keras justru meningkatkan stres dan rasa terisolasi, sehingga memperkuat dorongan yang ingin dihindari. Sebaliknya, sikap memahami dan menerima diri membantu seseorang mengelola emosi dengan lebih sehat.

Kesadaran terhadap pola keinginan juga menjadi kunci penting. Mengenali kapan hasrat muncul, dalam kondisi emosi apa, dan setelah peristiwa apa, membantu seseorang mengambil jarak dari dorongan tersebut. Program berbasis mindfulness mengajarkan bahwa keinginan dapat diamati tanpa harus langsung dituruti.

“Dengan pemahaman ini, tujuan bukan menghilangkan hasrat sepenuhnya, melainkan belajar meresponsnya secara lebih bijak. Kebebasan yang dihasilkan bukan berupa kendali sempurna, tetapi kemampuan untuk memahami diri sendiri dan melangkah maju secara perlahan menuju kehidupan yang lebih sehat dan seimbang,” tukasnya.