HIMPSI, Edukasi Seks Pada Anak Bisa Dimulai dari Usia 3 Tahun
- https://pixabay.com/photos/mother-and-child-meadow-family-park-6957312/
Parenting, VIVA Mindset – Edukasi seks pada anak bukan soal mengenalkan hubungan seksual, melainkan langkah awal untuk melindungi anak dari kekerasan dan membangun rasa aman sejak dini. Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) menegaskan, pendidikan ini sudah bisa dimulai saat anak berusia 3 hingga 4 tahun.
“Edukasi sudah bisa dimulai sejak usia dini kurang lebih 3–4 tahun, tentunya dengan bahasa yang sangat sederhana dan sesuai tahap perkembangan anak,” kata Bendahara HIMPSI Wilayah Aceh, Devi Yanti, M.Psi., Psikolog, seperti dilansir ANTARA, Senin, 2 Januari.
Devi menjelaskan, pada rentang usia tersebut anak belum memahami konsep seksualitas. Fokus utama pendidikan justru pada pengenalan tubuh, batasan diri, dan rasa aman. Pendidikan seks pada tahap ini berperan sebagai edukasi tentang tubuh, relasi sehat, serta perlindungan diri dari kekerasan.
Materi edukasi pun perlu disesuaikan dengan usia anak. Pada anak usia 3 hingga 5 tahun, orang tua dapat mulai mengenalkan nama-nama bagian tubuh dengan ejaan yang benar, termasuk area pribadi.
“Area tubuh pribadi seperti alat kelamin dan payudara perlu disebutkan dengan benar, sekaligus ditekankan bahwa bagian tersebut tidak boleh dilihat atau disentuh orang lain tanpa alasan medis dan pendampingan orang tua,” ujarnya.
Selain itu, anak juga perlu dikenalkan pada perbedaan sentuhan yang baik, membingungkan, dan tidak nyaman agar mereka mampu mengenali situasi berisiko.
“Jangan lupa untuk ajarkan mengenai hak anak untuk berkata tidak dan melapor pada orang dewasa yang terpercaya,” tambah Psikolog Klinis di Rumah Sakit Jiwa Aceh tersebut.
Memasuki usia 6 hingga 9 tahun, pendidikan seks dapat dilanjutkan dengan pemahaman yang lebih jelas mengenai batasan tubuh dan privasi. Anak juga perlu diajarkan untuk mengenali siapa saja orang dewasa yang dapat dimintai pertolongan jika mengalami pelecehan atau kekerasan seksual.
Pada tahap ini, anak sudah harus mulai memahami risiko interaksi, baik dengan orang asing maupun orang yang dikenal, serta dikenalkan secara sederhana pada perubahan tubuh menjelang pubertas.
Sementara itu, untuk anak pra remaja atau usia 10 tahun ke atas, Devi menekankan pentingnya edukasi yang lebih komprehensif. Anak perlu memahami perubahan fisik dan emosional yang akan dialami saat pubertas.