Ilmuwan Temukan Alasan Otak Bisa Bertahan dari Alzheimer

Tidak semua orang akan berakhir dengan demensia.
Sumber :
  • https://pixabay.com/photos/man-elderly-face-head-hair-1845259/

Kesehatan, VIVA Mindset – Anggapan bahwa penurunan daya ingat adalah bagian tak terelakkan dari proses menua kini mulai dipertanyakan. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa tidak semua orang yang mengalami perubahan biologis pada otak akan berakhir dengan demensia atau Alzheimer.

img_title Keseimbangan Hormon Remaja Ditinjau dari Pola Olahraga Malam

Hal ini diungkapkan oleh Barbara Blatchley, Ph.D., profesor Psikologi dan Neurosains di Agnes Scott College, dalam tulisannya yang dimuat di psychologytoday.com.

“Selama beberapa dekade terakhir, data menunjukkan bahwa penurunan kognitif dan demensia tidak selalu menjadi konsekuensi alami dari penuaan,” tulis Blatchley.

img_title Lansia Usia 60 Tahun ke Atas Perlu Tetap Aktif, Ini Aktivitas Fisik yang Aman

Dalam artikelnya, ia menjelaskan bahwa demensia merupakan istilah umum yang mencakup berbagai gangguan kognitif terkait usia, dengan Alzheimer sebagai bentuk yang paling sering ditemukan. Meski demikian, tidak semua orang yang memiliki ciri biologis Alzheimer di otaknya akan mengalami gangguan daya ingat.

“Beberapa individu memiliki plak amiloid dan perubahan saraf khas Alzheimer, namun tetap tidak menunjukkan penurunan kognitif,” ungkapnya.

img_title Waspada! Ini Tanda Ginjal Bermasalah yang Sering Diabaikan

Menurut Blatchley, kondisi ini mengarah pada konsep resilience atau ketahanan otak, yakni kemampuan otak untuk tetap berfungsi meski mengalami perubahan struktural. Fenomena tersebut hingga kini masih terus diteliti oleh para ilmuwan.

Penelitian terbaru pada hewan percobaan bahkan membuka harapan baru. Dalam studi yang dikutip Blatchley, para peneliti berhasil membalikkan gejala Alzheimer pada tikus melalui pemulihan keseimbangan molekul penting bernama NAD+, yang berperan dalam metabolisme sel dan perlindungan neuron.

“Kehilangan ketahanan otak tampaknya berkaitan dengan terganggunya keseimbangan NAD+ di otak,” tulisnya lagi.

Dalam penelitian tersebut, pemberian senyawa P7C3-A20 dilaporkan mampu mengurangi penumpukan plak, memperbaiki fungsi kognitif, hingga memulihkan kerusakan DNA pada otak tikus dengan Alzheimer tingkat lanjut.

Blatchley menegaskan bahwa meski temuan ini masih berada pada tahap penelitian hewan, hasilnya memberikan pesan penting bagi masa depan penanganan demensia.

“Terapi yang bertujuan memulihkan ketahanan otak berpotensi menjadi arah baru dalam pencegahan dan pembalikan Alzheimer,” kata Blatchley.

Ia pun menutup dengan catatan optimistis bahwa penuaan tidak selalu identik dengan kepikunan. Di balik proses menua otak manusia ternyata memiliki kemampuan bertahan, dan sains kini mulai menemukan cara untuk memahami bahkan mungkin mengembalikannya.