Waspadai! Konten Kekerasan di Internet Bisa Ganggu Mental Anak

Awasi anak anda untuk tontonan lebih baik
Sumber :
  • https://unsplash.com/id/foto/seorang-gadis-kecil-yang-khawatir-dengan-ibu-menutupi-mata-di-bioskop-sambil-menonton-film-m0Y9lm_wLUk

Parenting, VIVA Mindset –Di era digital, video atau gambar kekerasan bisa muncul tak terduga di feed media sosial, grup chat, atau lewat tautan viral. Anak yang tanpa sengaja menyaksikan konten seperti itu bisa mengalami stres emosional, kecemasan, gangguan tidur, atau ketidaknyamanan yang tak ringan. Pakar kesehatan mental memperingatkan bahwa otak anak bisa bereaksi seolah kekerasan tersebut benar-benar terjadi.

img_title Cara Mengatur Waktu Belajar dan Bermain Anak

Lalu, apa yang harus dilakukan orang tua agar anak merasa aman dan tidak terbebani oleh pengalaman tersebut? Dilansir dari Parents.com berikut langkah-langkah yang direkomendasikan para ahli:

1. Ajak Bicara Terbuka dan Langsung

img_title Orang Tua Wajib Tahu, Ini Cara Tepat Mengawasi PR Anak

Jangan tunggu anak membuka topik ini sendiri, terutama anak yang lebih kecil, mungkin tidak tahu bagaimana cara memulai. Anda bisa membuka dialog dengan pertanyaan sederhana seperti, “Aku dengar ada video sedang beredar, apakah kamu melihat sesuatu yang membuatmu tidak nyaman?” Dengan cara ini, Anda memberi ruang bagi anak untuk berbagi tanpa merasa dihakimi atau takut dimarahi.

2. Jangan Katakan “Jangan Pikirkan Itu”

img_title Homeschooling atau Sekolah Formal? Ini Pertimbangannya

Anjuran seperti “lupakan saja” justru bisa membuat anak semakin terpaku pada gambar atau video tersebut. Pikiran manusia sulit dikendalikan atas perintah, dan membicarakan secara langsung malah membantu mereka memproses.

3. Bimbing Anak untuk Mengungkapkan Pengalaman

Setelah mengetahui anak melihat sesuatu yang mengganggu, bantu mereka menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Tanyakan dengan lembut apa yang mereka lihat apakah itu berupa video, foto, atau suara serta di mana, kapan, dan dalam situasi seperti apa mereka menemukannya. Dorong anak untuk menceritakan kembali dengan detail, karena hal ini membantu otak menempatkan kejadian tersebut sebagai sesuatu yang dilihat, bukan dialami secara langsung.

Setelah berbicara, ajak anak melakukan aktivitas grounding sederhana untuk menenangkan tubuh dan pikiran. Misalnya, minta mereka menyebutkan tiga benda berbentuk bulat di sekitar ruangan, melakukan pernapasan teratur dengan pola empat hitungan (tarik napas empat detik, tahan empat detik, hembuskan empat detik), atau sekadar mengunyah es kecil untuk memberi sensasi fisik ringan. Aktivitas sederhana ini membantu tubuh keluar dari mode kewaspadaan tinggi dan membuat anak merasa lebih aman setelah mengalami stres.

Halaman Selanjutnya
img_title