Orang Tua Wajib Tahu, Begini Cara Deteksi Dini Alergi Makanan pada Anak

Ilustrasi dua orang anak sedang makan es krim
Sumber :
  • https://www.pexels.com/photo/adorable-asian-kids-enjoying-sweet-ice-cream-5693385/

Parenting, VIVA Mindset –Alergi makanan pada anak sering dianggap sepele. Padahal, menurut para ahli, kondisi ini dapat berdampak serius pada kesehatan bahkan mengancam nyawa jika tidak ditangani dengan tepat.

img_title Cara Mengatur Waktu Belajar dan Bermain Anak

 

Dokter Spesialis Anak dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Endah Citraresmi, Sp.A, Subsp.A.Im(K), menekankan pentingnya kewaspadaan orang tua.

img_title Orang Tua Wajib Tahu, Ini Cara Tepat Mengawasi PR Anak

 

“Kalau ada gejala yang muncul setelah anak makan sesuatu, hentikan dulu makanan tersebut. Amati apakah gejala membaik. Jika tidak, segera bawa anak ke IGD,” ujarnya dalam sebuah webinar, Selasa, 16 September 2025. Seperti dikutip dari antaranews.com

img_title Homeschooling atau Sekolah Formal? Ini Pertimbangannya

 

Alergi makanan bisa memengaruhi kulit, sistem pencernaan, hingga saluran pernapasan. Umumnya, reaksi alergi terbagi menjadi dua:

-       Reaksi cepat, muncul dalam waktu satu jam setelah anak mengonsumsi makanan pemicu. Gejalanya antara lain gatal, kemerahan pada kulit, biduran, bengkak di bibir atau kelopak mata, muntah, nyeri perut, hingga kondisi berbahaya seperti anafilaksis.

-       Reaksi lambat, biasanya muncul setelah dua jam atau lebih. Gejalanya bisa berupa kulit kering dan gatal (dermatitis atopik), diare, muntah, hingga BAB berdarah yang dapat berlangsung dalam jangka waktu lama.

 

Jika reaksi disertai sesak napas, dehidrasi, atau penurunan kesadaran, anak harus segera mendapatkan penanganan medis darurat.

 

Salah satu cara sederhana untuk membantu dokter menegakkan diagnosis alergi adalah dengan membuat food diary atau catatan makanan.

 

“Kalau anak diare setelah minum susu sapi, catat waktunya, jumlah BAB, serta perubahan kondisi setelah konsumsi dihentikan. Data ini sangat membantu dokter untuk menentukan apakah benar alergi makanan atau penyebab lain,” jelas dr. Endah, yang juga tergabung dalam UKK Alergi Imunologi IDAI.

 

Menurut FAO (Organisasi Pangan dan Pertanian PBB), pada tahun 2020 terdapat sekitar 220 juta orang di dunia yang hidup dengan alergi makanan. Anak-anak merupakan kelompok paling rentan.

 

Dalam sebuah jurnal internasional berjudul Food Allergy in Children – The Current Status and the Way Forward (2022), disebutkan bahwa sekitar 4 persen anak-anak di seluruh dunia mengalami alergi makanan, dan jumlahnya terus meningkat dalam dua dekade terakhir.

Halaman Selanjutnya
img_title