Hati-Hati, Garam dan Gula Bisa Jadi ‘Racun’ Bagi Bayi

Ilustrasi seorang bayi duduk disamping boneka
Sumber :
  • https://www.pexels.com/photo/baby-sitting-on-green-grass-beside-bear-plush-toy-at-daytime-1166473/

Parenting, VIVA MindsetBagi sebagian orang tua, makanan pendamping ASI (MPASI) yang tidak diberi garam, gula, atau madu sering dianggap hambar. Namun, para dokter anak menegaskan bahwa tambahan rasa tersebut justru bisa berbahaya bagi kesehatan bayi.

img_title Memahami Akar Masalah Kehilangan Motivasi Belajar Anak

 

Hal ini disampaikan oleh Dr. Senthil Kumar Sadasivam Perumal, Konsultan Senior Neonatologi dan Pediatri di Apollo Cradle and Children’s Hospital, Bengaluru-Brookefield, India. Menurutnya, tubuh bayi masih sangat rapuh sehingga bahan tambahan seperti garam, gula, maupun madu dapat mengganggu perkembangan organ vital mereka.

img_title Wajib Tahu! Cara Asyik Ajari Anak Menulis dan Berhitung

 

Ginjal bayi yang baru lahir belum matang sepenuhnya. Dr. Perumal menjelaskan, menambahkan sedikit saja garam dalam makanan dapat membebani ginjal dan berisiko menyebabkan tekanan darah tinggi atau gangguan ginjal di kemudian hari.

img_title Seni Mengajar Tanpa Membuat Anak Tertekan

 

Asupan garam harian bayi sebetulnya kurang dari satu gram, jumlah yang sudah tercukupi dari ASI atau susu formula. Pemberian garam tambahan hanya akan membentuk kebiasaan bayi menyukai makanan asin sejak dini.

 

Selain garam, keluarga sering merasa aman memberikan gula, gula aren (jaggery), atau madu. Padahal, semuanya tetap membawa risiko:

-       Gula & gula aren: Meski jaggery dianggap lebih alami karena mengandung zat besi, jumlahnya sangat kecil dibanding nutrisi dari buah, sayur, dan biji-bijian. Lebih dari itu, gula tetaplah gula sumber kalori kosong yang bisa membentuk preferensi rasa manis dan meningkatkan risiko obesitas, diabetes, serta gigi berlubang.

-       Madu: Walaupun alami, madu bisa mengandung spora Clostridium botulinum. Bakteri ini dapat menyebabkan botulisme, penyakit langka tetapi berpotensi fatal bagi bayi karena sistem pencernaannya belum mampu menghancurkan spora tersebut.

 

Daripada menambahkan bumbu, orang tua disarankan untuk memperkenalkan makanan alami yang sudah memiliki rasa manis atau gurih alami, seperti:

-       Buah-buahan manis: pisang, apel, pepaya, mangga, pir.

-       Sayuran dengan rasa manis alami: wortel, labu, ubi.

-       Biji-bijian: beras, gandum, suji, ragi.

-       Lentil dan kacang-kacangan tanpa garam sebagai sumber protein dan zat besi.

-       Lemak sehat: ghee, alpukat, bubuk kacang (dengan pengawasan alergi).

 

Bagi orang dewasa, makanan bayi mungkin terasa hambar. Namun, menurut Dr. Perumal, rasa tersebut sebenarnya sudah seimbang bagi lidah bayi.

Halaman Selanjutnya
img_title