Netflix “Adolescence”, Membesarkan Anak Laki Laki di Era Digital
- https://www.imdb.com/title/tt31806037/mediaviewer/rm961777154/
Film, VIVA Mindset –Serial Netflix “Adolescence” menjadi cermin yang tajam tentang realita besar di balik dunia digital dan bagaimana hal itu membentuk identitas remaja laki-laki zaman sekarang. Dalam drama kriminal ini, kita disuguhkan kisah Jamie, seorang remaja yang tumbuh dalam tekanan maskulinitas, ideologi “manosphere”, dan isolasi digital yang semakin nyata. Sebagai orang tua, kita harus bertanya: bagaimana membesarkan anak laki-laki sehat di era internet yang begitu kuat?
Tekanan Maskulinitas di Dunia Maya
“Adolescence” mengungkap bagaimana remaja laki-laki bisa terjerumus pada toxic masculinity dan ideologi ekstrem. Serial ini memperlihatkan bahwa tak hanya masalah fisik, tetapi juga identitas gender mereka dipengaruhi oleh konten online. Orang tua perlu sadar bahwa tak semua pengaruh digital itu positif — terutama ketika algoritma memberi konten berbahaya yang menekankan “pria sejati” harus keras, tak peduli perasaan.
Bahaya Smartphone Tanpa Filter
Ponsel bukanlah masalah utama; melainkan apa yang anak lihat di dalamnya. Akses tak diawasi ke komunitas online yang gelap bisa jadi pintu masuk ideologi ekstrem atau isolasi sosial. Ketika seorang remaja hanya menutup pintu kamarnya dan mengunci diri dengan layar, orang tua bisa kehilangan jejak emosional dan moralnya.
Tantangan Orang Tua: Parenting Digital
Serial ini menggarisbawahi pentingnya digital parenting — yaitu bagaimana orang tua dapat memahami dunia online anak, bukan hanya melarang atau mengontrol, tetapi mendampingi dengan dialog. Psikolog menyarankan agar orang tua selalu up to date tentang aplikasi dan konten yang digunakan anak. Dengan keterlibatan aktif, orang tua tidak hanya menjadi pengawas, tetapi juga pemandu moral dalam dunia digital.
Dampak Emosional pada Remaja Laki Laki
Remaja laki-laki seperti Jamie bisa merasakan isolasi emosional yang mendalam. Serial ini memperlihatkan bagaimana frustrasi dan keputusasaan bisa berubah menjadi perasaan berkuasa yang berbahaya. Tanpa dukungan empatik, anak laki-laki bisa merasa tak punya ruang untuk merasakan kegelisahan, takut, atau kerentanan. Sebagai orang tua, kita harus memberi ruang aman agar anak merasa bisa bicara tentang kecemasan dan kebingungan identitas mereka.